Rectoverso

Sekitar akhir bulan Februari yang lalu saya dan teman² secara random nonton film Indonesia. Ya, bisa dikatakan jaranglah nonton film negeri ini. Film ini bertajuk Rectoverso, yang diadaptasi dari buku Rectoverse yang berisi kumpulan cerpen karya Dewi “Dee” Lestari.
Dan tentu saja film ini membahas bahasan yang paling menarik sakdunia, apalagi kalo bukan “cinta”!! :D. Dengan tagline Cinta yang tak Terucap, film ini berisi lima cerita yang dipilih dari sebelas cerpen sakti Dee di buku Rectoverso. Lima cerita itu dikerjakan oleh lima director yang berbeda-beda, mereka adalah Marcella Zalianty (Malaikat Juga Tahu), Rachel Maryam (Firasat), Cathy Sharon (Cicak di Dinding), Olga Lydia (Curhat Buat Sahabat) dan Happy Salma (Hanya Isyarat).
Malaikat Juga Tahu. 

Ini favorit saya (ada Pia soalnya, hahaha). Ga gitu juga si, emang ceritanya bagus dan bisa diambil banyak hal dari ceritanya. Cerita yang mengisahkan si Abang (Lukman Sardi) yang meranin orang autis, asik pada dunianya sendiri, kemudian berubah menjadi ceria karena jatuh cinta pada Leia. Karena mungkin Leia bisa mengerti apa yang dilakukan oleh si Abang. Dibalik kejadian ini, ada Bunda si Abang yang juga Ibu Kost si Leia yang menyadari bahwa kemungkinan Abang tidak akan pernah bisa bersama dengan Leia, apalagi sejak datang si Hans, adik Abang yang makin deket juga sama dia.
Pokoknya bisa dilihat akting si Lukman Sardi yang awesome begete lah. Bisa dilihat sudut pandang lain hidup ini dari seorang yang punya sedikit kebiasaan lain yang berbeda dari orang biasanya.

Hanya Isyarat.

 

Ini favorit kedua saya, mungkin kisahnya, hmm *kepencet backspace. Ceritanya tentang sekelompok backpacker yang bertemu lewat forum dan udah akrab dan gila-gilaan bareng. Tapi ada satu orang, Al namanya, cewek sendiri dan sering menyendiri, pendiam, dll. Dan ternyata Al naksir sama salah satu pemuda bernama Raga (Hamish Daud), sosok yang selama ini hanya ia kenal melalui punggungnya saja. Bahkan warna matanya pun belum tahu. Suatu malam mereka berlima mengadakan sebuah permainan kecil, yaitu berlomba menceritakan kisah paling sedih yang mereka punya. Saat Raga menceritakan kisahnya, Al tersadar bahwa rasa cintanya harus berhenti sampai malam itu saja. Apakah Al menyesal telah mencintai sosok asing itu? *aku juga ga ngerti pembaca yang budiman, hehe*. Ceritanya simpel tapi dalemlah buat yang ini.


Curhat Buat Sahabat.

 

Cerita antara dua sahabat multi error. Amanda (Acha Septriasa) yang supel, easy going dan gampang jatuh di pelukan laki-laki yang salah dengan Reggie (Indra Birowo) cowo yang kalem, pendiem dan minim dialog. Meskipun Reggie cenderung pendiem dan jadi “kotak sampah” curhatnya Amanda, tapi men, matanya Reggie gak bisa boong sebenernya doski naksir banget sama Amanda. Bisa dibilang, Reggie ini semacam paket lengkap antara sahabat, pelindung sekaligus kotak sampahnya Amanda kalo lagi dibutuhin.
Beuh, mantep kan. Mungkin cerita ini bakal jadi mengharu biru kalo nontonnya emg bener bareng sahabat yang kayak gini. Best quote dari Reggie :

Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tak sanggup saya miliki.

Firasat.

Bagian terbaik dari cerita ini adalah diajarkan sebuah filosofi untuk saling menerima melalui kisah Senja (Asmirandah) dan Panca (Dwi Sasono). Kadang hal yang paling baik yang bisa dilakukan manusia adalah menerima. Termasuk menerima bahwa orang yang kita cintai bakal pergi selamanya.

Seperti apa kata Dee, barangkali itulah mengapa kematian ada. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan berjumpa. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta.


Cicak Di Dinding.

Cerita yang ini jujur saya ga gitu suka, mungkin karena disangkutpautkan dengan sisi seksual kali ya, jadi agak kurang pas aja sama cerita yang lainnya. Intinya si menceritakan tentang Taja (Yama Carlos) seorang pelukis muda bertemu dengan Saras (Sophia Latjuba), seorang wanita dewasa yang hidup dengan filosofi kebebasan and yet, very seductive.
Yang saya kurang ngerti juga hubungannya sama cicak apa? hehe




Nah, itu dia pengalaman nonton film dari ceritanya Dee, karena sebelum-sebelumnya kelewat trus mau nonton. Ternyata ga kalah bagus juga ko’ film dalam negri kita. Jempol lah! 🙂
Oiya, tak lupa beri salam pada teman² saya ini yang sudah mau secara random main dan membasmi rasa lapar bersama (memenuhi hasrat saya untuk mengkonsumsi ramen di akhir bulan), hehe.


@M_Nashiruddin, @adiferd, @mariaUlfah_umar, @miftakribo

@ariffsetiawan

๏ 73 readers

2 thoughts on “Rectoverso”

  1. yg "Malaikat Juga Tahu", itu ceritanya sama persis kayak cerita di video klip nya kak. Favorit saya banget ituuu :")
    Kalau di video klip, juaranya kekasih hati adalah ibu :")

Leave a Reply