Sempat saya berangan kala itu, kapan ya bisa naik gunung lagi? Gunung yang beneran gunung. Terakhir saya cuma naik ke Gunung Papandayan, gunung yang seperti ga ada puncaknya, hehe.

Daaan… tiba² lihat postingannya Mas Apit di sini, yang mana merupakan misi 3S (Slamet, Sumbing, Sindoro) yang akan ditempuh selama seminggu, nutuk.

Wah, pas cocok iki. Pikirku. Langsung aja madhep mantep buat join, tapi ikut yang 2S aja (Sumbing, Sindoro). Tapinya lagi setelah dipikir-pikir sepertinya saya ga bisa dapet cuti banyak, akhirnya memutuskan untuk ikut yang Sumbing aja.

Tadinya saya pengen sendirian nyusul dari Bandung buat join rombongan Mas Apit tadi. Tapi setelah koar² di socmed, akhirnya secara mendadak bisa dapet temen si +Walesa sama +anditya. Ajaib 😀

Akhirnya setelah kompromi sana-sini, sudah ditentukan bakal berangkat dari Cicaheum pake bus Sinar Jaya jurusan Bandung – Wonosobo (Eksekutif – Rp 70.000) hari Minggu sore, 29 Desember 2013.

Magelang

Tiba di Terminal Mendolo Wonosobo tepat sebelum Subuh, kami menyempatkan waktu untuk istirahat sejenak : sholat dan ngopi. Setelah itu kami akan menuju ke Magelang. Karena kami baru janjian sama Mas Apit malam harinya di Basecamp Sumbing. Tak lupa saya menghubungi teman yang kebetulan lagi mudik di rumahnya deket Borobudur, si +Ratri Anggardani.

Gunung Sumbing, diambil di perjalanan Wonosobo – Magelang

Selama perjalanan Wonosobo – Magelang (pake bus 3/4 Cebong Jaya – Rp 15.000), kami berarti melakukan perjalanan di antara dua gunung, Sindoro dan Sumbing. Bentuk Sindoro lebih sempurna daripada Sumbing untuk sebuah gunung, seperti anak kecil menggambar gunung biasanya.

Perjalanan ini ditempuh sekitar 3 jam melewati Temanggung juga. Sampai di Terminal Tidar Magelang kami harus berganti ke bus 3/4 jurusan Borobudur, kemudian turun di dekat Kabupaten Magelang (Rp 5.000). Dilanjutkan jalan kaki sekitar 1 km ke rumah Ratri (dulu saya pernah sekali ke sana, jadi ga ragu buat langsung jalan kaki sambil bawa carrier gede, heheu).

Sampai di tempat Ratri kami langsung disambut dengan teh anget, gorengan dan mangut ikan, hmm..

Setelah itu cuma berencana rafting di Kali Elo, jajan Kupat Tahu legendaris di Blabak, dan diakhiri dengan belanja makanan buat nanjak nanti. Terima kasih sekali lho buat sambutannya di Magelang.

Sambutan di Magelang

 

Basecamp Sumbing

Basecamp Sumbing yang nyaman 😉

Untuk sampai di basecamp kami harus menempuh perjalanan Rumah Ratri – Terminal Tidar Magelang (pake bus jurusan Borobudur Grabag – Rp 5.000), dilanjutkan Cebong Jaya yang isinya macem², mulai dari anak-anak sekolah sampai simbah-simbah yang bawa senik abis dari pasar, kemudian turun di Garung.

Sampai di sana kami sekitar abis Maghrib, sholat dulu, istirahat bentar sambil nunggu rombongan Mas Apit. Ternyata telat pas turun dari Gunung Slamet, maka kami putuskan untuk nanjak duluan, nanti ketemu di atas, ujar kami.
Oiya, di deket Basecamp Sumbing di pinggir Jl Wonosobo – Magelang ada Pecel Lele Lamongan yang enak banget di sekitar pasar, cobain deh 😀

Pendakian Hari 1

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 9 malem, bertiga saja menggunakan Jalur Lama. Fyi, di Sumbing ini ada 2 jalur, yaitu Jalur Baru dan Jalur Lama yang nantinya bertemu di Pos Pestan.Tujuan pertama kami adalah Pos 1, yang kira-kira berjarak 3 km dari Basecamp dari total 7 km hingga Puncak Sumbing. Cukup Panjang.

Kami melewati pemukiman penduduk, ladang yang berisi sayuran kubis, sawi, dan tanaman-tanaman yang hidup di daerah dingin hingga kilometer 2. Rute ini berupa jalanan batu yang rapi, karena merupakan jalan petani juga. Selama melintasi jalan petani ini mungkin kami berhenti lebih dari 3 kali, huahaha. Namanya juga pendakian ga pake persiapan fisik. Si Andit juga udah mulai ngerasa sakit di kakinya.

Selain itu, tidak banyak yang bisa kami dokumentasikan selama perjalanan bagian ini, mengingat sudah malam hari dan kami hanya menggunakan kamera hp, seadanya.

Tak selang berapa lama setelah kami mengakhiri jalan batu, kami mulai memasuki jalanan tanah dengan tanjakan yang mulai kerasa, selain itu juga sudah mulai sedikit gerimis. Satu yang ada di benak kala itu.

Ini Pos 1 manaaaa… ko’ ga nyampe-nyampe sik? :))

Dan alhamdulillah setelah melewati 3 atau 4 tanjakan, kami pun tiba di Pos 1 Malim. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda, mengingat sudah mendekati tengah malam dan cuaca yang kurang mendukung.

Pendakian Hari 2

Alhamdulillah lagi, kami bertiga tidur nyenyak dengan sleeping bag masing-masing, amanlah pokoknya, ga pake ribut-ribut, heheu. Cuma pas bangun paginya aja saling memalaskan diri karena efek suara rintik hujan yang menerpa tenda kami.

Camp di Pos 1 Malim

 

Hari kedua kami mulai dengan sarapan ind*mie tom yum, gorengan dan pisang rebus sisa kemarin dari Magelang. Kemudian kami langsung melanjutkan pendakian dengan energi penuh.

Perjalanan di pagi hari ini terasa lebih ringan mungkin karena jalannya kelihatan dan istirahat yang lumayan cukup, tapi emang trek Sumbing ga bisa bohong, sedikit sekali jalan landai di sini. Kami pun sering berhenti di antara pepohonan.

Uniknya lagi, walaupun cuaca kurang bersahabat yang mana kabut di sekeliling yang menyebabkan jarak pandang terbatas dan ga melihat pemandangan di sekitar gunung sama sekali, tapi masih banyak pendaki yang kami temui, baik yang bentuknya rombongan bocah-bocah, penduduk lokal, hingga pasangan yang lebih tua dari kami.

Kami menuju Pos 2 Genus dengan lancar dengan menapaki jalan tanah yang sudah dibentuk seperti tangga. Istirahat sebentar, cek peta, kemudian kami langsung meneruskan pendakian. Nah, setelah dari sinilah kabut tebal mulai kami temui dan cuaca pun semakin mengkhawatirkan, tapi kami masih meneruskan perjalanan.

Menuju Pos 2 Genus

 

Menuju Pos 3 Sedlupak Roto

Mendekati Pos 3 Sedlupak Roto kami kena hujan badai, terpaksa mendaki dengan pelan karena jalan menanjak dan licin. Namun, akhirnya kami sampai Pos 3 walaupun dengan sedikit bersusah payah :D. Sampai di sana kami langsung beristirahat sambil bikin kopi, yang ternyata cepet banget dingin karena efek cuaca. Padahal manasin airnya lama.

Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan menerjang badai dari Pos 3, Pos Pestan (2437 MDPL) hingga Pos 4 Watu Kotak. Tapi alhamdulillah ada sedikit hiburan menjelang Pasar Watu, karena badai sempat reda.

Pos 3 Sedlupak Roto

 

Menuju Pos Pestan

 

Menuju Pos Pestan

 

Menuju Pasar Watu

 

Jalan Berbatu Pasar Watu

 

Andit salah ambil jalan

 

Vandalisme di Pasar Watu

 

Track paling maknyus menuju Pos 4 Watu Kotak

Dan begitulah perjalanan kami teruskan hingga Pos 4 Watu Kotak (2763 MDPL) dengan melewati jalur berbatu dan tebing yang cukup curam dan jurang yang cukup bisa bikin merinding. Kami tiba di sana sekitar jam 4 sore, dan langsung memutuskan untuk bikin tenda lagi.

Setelah bikin tenda, Saya dan Whe pergi ke Tanah Putih untuk mencari mata air, mengingat persediaan air kami sangat terbatas. Eh, malah ketemu sama satu pendaki dari Pekalongan yang lagi nyari temennya dan nyari puncak Gunung Sumbing yang katanya ga ketemu-ketemu. Kami hanya ngobrol sebentar dan meyarankan untuk turun saja, tapi masnya ini ngasih tau jika ada petunjuk mata air di Tanah Putih yang cukup bisa menambah semangat untuk nanjak ke sana, dengan kondisi yang semakin gelap.
Akhirnya kami mendapatkan beberapa botol air untuk dibawa. Kembali ke area camp kami hanya mengandalkan lampu dari power bank dan sedikit perkiraan bahwa jalan yang kami lalui sudah benar. Karena sudah benar-benar gelap saat itu. Rasa lega muncul ketika kami mendengar suara obrolan orang dan nyala lampu pertanda ada tenda di sana.

Kami sampai tenda tepat setelah maghrib dengan sensasi beberapa kali jatuh selama perjalanan mengambil air. Dan ternyata sudah penuh dengan beberapa tenda di Pos 4. Begitulah hari kedua pendakian kami lalui. Tanpa melihat sunrise dan sunset. Kami pun menikmati malam tahun baru di dalam tenda dengan mendengarkan beberapa suara kembang api, tanpa berniat untuk keluar, tentunya karena dinginnya suhu udara kala itu.Begitulah, kami mengakhiri tahun 2013.

Pendakian Hari 3

Dini hari saya terbangun dengan masih berada di dalam sleeping bag karena mendengar celetuk pembahasan dari beberapa lagu cinta oleh pendaki di tenda sebelah. Sepertinya masih seumur anak SMA. Ditambah guyonan ala anak muda suku Jawa yang membuat saya susah tidur lagi, heheu.
Di hari ke-3 ini kami berencana untuk nanjak ke Puncak Kawah Gunung Sumbing.
Sempat bermalas-malas dan bimbang sambil menunggu makanan sarapan yang ga kunjung siap karena parafin yang kami bawa tidak cukup bagus, akhirnya kami sepakat untuk sampai ke puncak. Nanggung bro, udah sejauh ini.
Perjalanan sempat tertunda karena Whe harus bantu tenda sebelah yang katanya ada cewek yang kedinginan, takutnya hypothermia, yang ternyata lagi PMS dan belum sarapan. *lalu hening*
Kami melanjutkan perjalanan ke Puncak bareng dengan sekelompok anak ITB.
Perjalanan dilakukan dengan mengulangi perjalanan ke Tanah Putih, dan ternyata jarak antara Tanah Putih hingga puncaknya tidak terlalu jauh. Tau gitu kemarin sore sampai puncak aja sekalian, pikir kami, hmm… *lalu hening lagi*
Jalur yang dilalui kali ini adalah jalur campuran antara batu kerikil, batu merah dan batu kapur dengan bentuk yang curam.
Area Camp Pos 4 Watu Kotak

 

Menuju Tanah Putih

 

Begaya di Tanah Putih

 

Dan alhamdulillah sekali setelah menerjang hujan angin dan menapaki bebatuan akhirnya kami sampai Puncak Kawah Gunung Sumbing (3371 MDPL) tepat di tanggal 1 Januari 2014 jam 12 siang waktu setempat. Walaupun hingga di atas kami tidak mendapatkan pemandangan yang diimpikan, tapi kami bersyukur bisa sampai dan kembali dengan selamat. Bisa merasakan bagaimana ditabrak awan mendung, hujan dari samping dan dari bawah.

((PUNCAAAK))

Puncak Kawah Gn Sumbing 3371 MDPL
Vandalisme di sekitar Puncak Gn Sumbing

Kami hanya menghabiskan waktu sebentar, kemudian langsung turun karena angin yang sangat kencang dikombinasikan dengan hujan dari berbagai penjuru.

Turun dari puncak, Watu Lawang

Setelah itu, kami langsung berkemas dan bersiap untuk turun gunung. Perjalanan turun diperkirakan akan lebih cepat. Saat itu kami mulai jalan dari jam 13.30. Perjalanan ini juga ditempuh dengan menerjang angin kenceng mulai dari Pasar Watu hingga ke Pos 3 Sedlupak Roto. Mulai dari sinilah kami baru bisa melihat pemandangan Gunung Sindoro dari lereng Gunung Sumbing. Lega…

Jalur turun ini sebagian menjadi licin karena bekas terkena hujan dan sudah dilewati oleh banyak orang.
Menuju Pasar Watu

 

Gunung Sindoro dari Pos 3

 

Jalur turun sekitar Pos 3 Sedlupak Roto

Kami terus melanjutkan perjalanan, sedikit demi sedikit kami mulai ke dataran yang lebih rendah, memang turun gunung idealnya lebih cepat, bisa dengan jalan cepat atau lari-lari kecil, jika alas kaki yang digunakan mendukung.Melewati Pos 2 kami langsung turun berpacu dengan waktu, hari sudah menjelang petang. Selain itu, ternyata Andit mengalami sedikit kecelakaan kecil yang menyebabkan perjalanan turun sedikit melambat. Akhirnya kami putuskan, saya turun duluan hingga Pos 1, si Whe bareng sama Andit.

Saya sampai Pos 1 sekitar jam setengah 6 sore. Wah ini udah ga mungkin ngejar bis Wonosobo – Bandung yang berangkat sore itu, pikirku. Selang beberapa menit, Whe dan Andit sampai juga di Pos 1.

Gak selesai di situ saja. kami beranggapan bahwa setelah lewat Pos 1 berarti perjalanan akan semakin ringan. Ternyata salah besar. Ujian paling berat adalah di jalanan terakhir yang melewati kebun hingga pemukiman warga. Tenaga kami sudah cukup terkuras dengan turun gunung hampir 6 jam dan masih tersisa sekitar 2 km dan cuma mengandalkan lampu dari powerbank.

Kami memutuskan untuk berpisah. Demi keselamatan masing-masing juga. Whe terus menuruni jalan di depan, Saya di belakangnya dengan kadar istirahat yang lebih banyak, sedangkan Andit dipanggilkan ojek (gara² cedera sehingga kesulitan untuk melanjutkan perjalanan).

Sekitar pukul 8 malam, akhirnya Whe memberikan kabar bahwa dia sudah sampai di basecamp, sesaat setelah itu juga ada kabar dari Andit yang bonceng ojek tadi. Saya? Masih di antah berantah sambil selonjoran, megang botol minum, sambil memandang Gunung Sindoro di depan saya, di bawahnya terdapat gemerlap lampu pemukiman penduduk yang menghiasi, sesekali terlihat juga seperti rangkaian lampu yang bergerak di antaranya. Bisa saya pastikan itu Jalan Raya Wonosobo – Magelang.

Dalam posisi jalan sendirian dan sesekali suara serangga menemani, saya terus mengumpulkan semangat untuk bisa mengakhiri perjalanan ini. Sempat terpikir untuk minta Whe buat mesen ojek, tapi setelah dipikir-pikir dan gengsi (apa kata dunia), jadi saya batalkan, padahal posisi tinggal pencet tombol send di hp, huahaha.

Baru sekitar pukul 9 malam saya akhirnya sampai di belokan terakhir yang menjadi tanda bahwa sudah sampailah saya di ujung pemukiman penduduk. Betapa senang saya saat itu, walaupun cuma tersisa tenaga buat jalan pelan, heheu. Mulailah saya melewati jalanan di antara rumah-rumah penduduk sana, dan ketika melihat ada yang jual tempe goreng langsung tanpa pikir panjang saya langsung mampir dengan wujud yang susah dideskripsikan :))

Tak selang berapa lama saya ditawari buat bonceng motor ke basecamp sama mas-mas yang juga anggota Tim SAR Gunung Sumbing. Sampai basecamp, lega sekali rasanya! Langsung lepas carrier dan baju kotor. Mengistirahatkan tubuh yang sudah dipacu untuk bisa jalan 7 km + beban carrier yang lumayan.

Alhamdulillah… We made it! Satu-satunya yang ada di benak saya.

Kami mengakhiri hari itu dengan memesan jahe susu dan makan di basecamp.

Hari Tambahan

Karena sudah dipastikan kelewat buat bis malam, akhirnya kami memutuskan untuk balik Bandung keesokan harinya. Kami full istirahat hingga pagi hari. Walaupun di lantai terpal dan sleeping bag, tapi bisa tidur nyenyak adalah kenikmatan yang tak terkira setelah pendakian.

Paginya, kami pun baru tau jika bis menuju Bandung ada sekitar jam 7 pagi, sedangkan bisa dari basecamp menuju Wonosobo juga adanya jam 7 pagi. Dipastikan lagi bahwa kami akan tertinggal bis. Akhirnya kami putuskan untuk ke Wonosobo siang hari.

Uniknya, kami akhirnya bertemu Mas Apit di basecamp ini, setelah dia mendengar suara saya dan keluar dari sleeping bagnya :)). Ternyata rombongannya cuma sampai Pos Pestan dan kembali turun.

Untuk mengisi waktu, kami menjemur sebagian peralatan dan baju yang basah selama menerjang badai. Anehnya, hari itu cerah sekali, tapi mendung masih menyelimuti duo Sindoro Sumbing.

Berjemur

 

Gunung Sindoro

Setelah siang, kami berkemas, pamitan sama bapak-bapak di basecamp, rombongan Mas Apit untuk menuju Wonosobo. Sebelum sampai di Wonosobo, kami sempatkan untuk mampir daerah sekitar Pasar Kertek, untuk jajan Mie Ongklok dan Es Carica. The best lah ini kalau di Wonosobo.

Sampai di Terminal Mendolo, kami langsung beli tiket bis dan harus menunggu hingga keberangkatan jam 18.30. Di sini kami bertemu satu pendaki dari Jakarta yang habis naik Gunung Sumbing dan Gunung Prau. Uniknya, kami menceritakan sensasi yang sama ketika turun Gunung Sumbing : bagian akhir perjalanan yang merupakan ujian terberatnya :))
Setelah itu, kami seperti biasa menempuh perjalanan Wonosobo – Bandung dan alhamdulillah sudah sampai kosan masing-masing sekitar jam 5 pagi.
Begitulah perjalanan kali ini, terima kasih Sumbing, sudah memberikan kesan dan pelajaran tersendiri di penghujung tahun 2013 dan awal tahun 2014. Semoga suatu saat bisa bertemu kembali dengan cuaca yang lebih mendukung.

It is not the mountain we conquer but ourselves. – Edmund Hillary

@ariffsetiawan

๏ 1040 readers

One Reply to “Pendakian Gunung Sumbing 3371 MDPL”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *