Pendakian Gunung Manglayang merupakan salah satu pendakian yang sedikit membuat shock beberapa teman saya, terutama yang baru pertama kali mendaki gunung, haha.

Seperti biasa, cuma diawali dari celoteh di Twitter, langsung ada beberapa yang respon dan singkat cerita terkumpullah 10 orang yang mau berpartisipasi pada tanggal 29-30 Maret 2014 untuk menjajaki salah satu gunung di kawasan Bandung Timur ini, yang berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, Gunung Manglayang.

Deket ko’, cuma deket di Bandung, ga tinggi-tinggi amat, (gunung manglayang) cuma 1818 MDPL, cocok buat yang baru pertama naik gunung.

Gunung ini merupakan rangkaian dari gunung-gunung yang berkaitan dengan Legenda Sangkuriang (BurangrangTangkuban PerahuBukit Tunggul – Gunung Manglayang) dan merupakan gunung yang terendah diantara 4 gunung tersebut.

Jalur Pendakian Gunung Manglayang
Jalur Pendakian Gunung Manglayang

Untuk jalur pendakian, jalur yang biasa digunakan adalah jalur pendakian dari Bumi Perkemahan Batu Kuda dan Jalur Desa Baru Bereum.

Kebetulan saya dan tim kemarin naik lewat Baru Bereum (jalur hijau) dan turun via Batu Kuda di hari berikutnya (jalur biru).

Kami memulai perjalanan dengan carter angkot dari Terusan Buah Batu hingga Kampus Unpad Jatinangor. Di sini kami istirahat sejenak sambil rencananya nunggu 2 teman kami yang sedang dalam perjalanan dari Jakarta. Sambil nyari carteran angkot lagi ke Baru Bereum.

Transit di Unpad Jatinangor
Transit di Unpad Jatinangor

Setelah beberapa jam kami menanti, teman kami tak kunjung sampai dan masih berada di kilometer XX. Dengan sedikit drama akhirnya kami putuskan untuk mendaki tanpa mereka. Maaf ya, heheu.

Perjalanan dari Kampus Unpad hingga ke Pos Pendakian Baru Bereum sekitar setengah jam. Bilang aja sampai warung buat mendaki ke Gunung Manglayang.

Perjalanan menuju Pos Pendakian (kasihan sama angkotnya, takut ga kuat)
Perjalanan menuju Pos Pendakian (kasihan sama angkotnya, takut ga kuat)
Pos Pendakian
Pos Pendakian

Setelah sampai di Pos ini, ambil jalur ke arah kiri yang melewati sungai kecil hingga ke kebun jeruk warga. Jalur ke kanan (yang ada di gambar) adalah jalur ke arah area perkemahan.

Setelah melewati sungai, ambil jalur ke arah kanan sedikit kemudian kiri dan cari jalan yang cenderung langsung menanjak. Jalur pendakian dari Baru Bereum adalah jalur yang paling vertikal daripada yang lainnya, mulai dari awal hingga sampai puncak dengan kemiringan sekitar 45 – 75 derajat dari awal hingga akhir, tanpa jeda. Dimulai dengan tanjakan tanah liat diselingi tanjakan berbatu yang sangat licin dan merupakan jalur air, sehingga sebenarnya sangat tidak direkomendasikan melakukan pendakian pada musim hujan. Sumber air pun tidak ada sepanjang jalur.

Lama pendakian ke Puncak Bayangan kami tempuh sekitar 3,5 jam dengan cuaca sedikit hujan. Kami menargetkan untuk mendirikan tenda di sana. Ambil jalur ke arah kiri jika menemukan percabangan setelah tanda penyemangat. Jalur ke kanan adalah jalur menuju Puncak Manglayang.

Istirahat dulu...
Istirahat dulu…
Semangat! :D
Semangat! 😀

Selama 3,5 jam itu kami terpaksa belepotan dengan tanah basah karena jalurnya yang lumayan aduhai ditambah dengan kabut yang tebal dengan jarak pandang sekitar 1-2 meter. Cabe rawitlah pokoknya Manglayang! 😀

Puncak Bayangan Gunung Manglayang
Puncak Bayangan Gunung Manglayang

Sampai di Puncak Bayangan, kami langsung bergegas mendirikan tenda. Kebetulan di sana sudah ada 2 tenda. Kami mendirikan 2 di antara mereka. Sesaat setelah tenda berdiri, malah hujan deras. Tanpa berpikir panjang kami langsung mengambil posisi buat masuk tenda dan bersiap tidur. Akhirnya batal acara buat makan di malam hari.

Puncak Bayangan ini adalah tempat yang direkomendasikan untuk mendirikan tenda, karena pada pagi harinya bisa langsung melihat pemandangan terbuka. Misalnya citylights dari Bandung + Jatinangor dan atau sunrise dengan sensasi pinggir jurang.

Dan Bandung...
Dan Bandung…
Bikin teh anet
Bikin teh anet
Bandung + Subuh
Bandung + Subuh
Menyambut mentari
Menyambut mentari
Selamat Pagi
Selamat Pagi
Nasi Rempah Paket Sahur
Nasi Rempah Paket Sahur
Hello...
Hello…

Kami bangun sekitar jam 3 pagi karena sudah tidur awal dilanjutkan dengan menanti mentari pagi di area camp yang tidak terlalu luas ini. Dilanjutkan dengan sarapan, heheu.

Semburat sinarnya
Semburat sinarnya
Selfie tanpa monopod :))
Selfie tanpa monopod :))
Foto yg instagram-able
Foto yg instagram-able
Masyarakat Manglayang
Masyarakat Manglayang
Tetangga
Tetangga
Jurang di mana carrier si Riezan sempet jatuh, untung masih nyangkut di pohon.
Jurang di mana carrier si Riezan sempet jatuh, untung masih nyangkut di pohon.
Misi penyelamatan sayap ayam
Misi penyelamatan sayap ayam
Beberes tenda, done.
Beberes tenda, done.

Tidak berhenti sampai di sini, kami masih harus meneruskan perjalanan ke Puncak Manglayang. Cari saja tanda/petunjuk untukmenuju ke Puncak Manglayang di sekitar area camp ini.

Perjalanan menuju Puncak Manglayang kami tempuh sekitar 1 jam dengan track yang hampir sama, terus menanjak. Mantaaap! :’D

Sampai di puncak rasanya lega banget tentunya, setelah melewati track yang aduhai jilid 2, yang mana stamina sudah mulai ga oke lagi, heheu. Alhamdulillah, kami sakses ke Puncak Manglayang 1818 MDPL.

Dan ternyata puncaknya lumayan luas, namun tidak ada pemandangan terbuka karena tertutup rindangnya pohon sekitar.

Tim Manglayang<br>@fahmyqwee @riezan_ @ariffsetiawan @undeedz<br>@lisaayuw @whe_green @rolianireli @r_insani
Tim Manglayang
@fahmyqwee @riezan_ @ariffsetiawan @undeedz
@lisaayuw @whe_green @rolianireli @r_insani

Kami menghabiskan beberapa saat di puncak, sambil menghabiskan persediaan makanan juga. Di sana malah sempat ketemu dengan beberapa rombongan yang baru naik, mau ngecamp bahkan ada juga yang cuma naik kemudian turun lagi.

Kami mengambil jalur turun lewat Batu Kuda. Meskipun terjal jalurnya hampir sama, tapi better dari jalur dari Baru Bereum yang bener-bener seperti jalur air. Di sini masih lumayan enak buat dilewati. Kami menempuh perjalanan turun sekitar 3 jam.

Asiknya dari jalur ini adalah kita bisa melihat pemandangan seluruh area Bandung dari atas. Dan di akhir perjalanan disambut dengan hutan pinus yang rindang ditambah dengan warung makan. Kelaparan + dahaga langsung bisa diberantas, heheu.

Pinus
Pinus
Melepas lelah sejenak
Melepas lelah sejenak

Kami mengakhiri perjalanan dengan carter mobil pickup dari Batu Kuda ke Cibiru dan carter angkot dari Cibiru hingga Kawasan Pendidikan Telkom.

Mungkin itu dulu liputan perjalanan ke Gunung Manglayang kemarin. Perjalanan yang akan menjadi cerita tersendiri dengan segala kekurangan dan keceriaan di dalamnya. Terima kasih Manglayang, terima kasih teman.

Getting to the top is optional, getting down is mandatory. – Ed Viesturs

@ariffsetiawan

Ringkasan Itinerary dan Biaya Perjalanan :

  • Terusan Buah Batu – Unpad Jatinangor : Angkot (220.000)
  • Unpad Jatinangor – Baru Bereum : Angkot (80.000)
  • Batu Kuda – Cibiru : Pickup (130.000)
  • Cibiru – Terusan Buah Batu : Angkot (80.000)
  • Belanja Makanan : 240.000
  • Sewa Alat Camping : 100.000

Total :  850.000
Per Orang : 850.000/8= Rp 106.250 (belum termasuk biaya lain-lain)

Dokumentasi Video :


→ 6560 readers

17 thoughts on “Pendakian Gunung Manglayang 1818 MDPL”

  1. mau tanya, kalo saya mau naik sendiri rekomend ga ya? soalnya saya baru pertama kali mau hiking. Dan apa rute pendakiannya sudah jelas? Takut nyasar dalam hutan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *