Pertengahan bulan Mei lalu, tepatnya tanggal 17, akhirnya perjalanan wacana menjadi nyata dengan bumbu-bumbu pembatalan keikutsertaan beberapa peserta (teridentifikasi bergolongan darah AB). Untungnya ada peserta pengganti yang akhirnya melengkapi formasi perjalanan dengan jumlah 7 orang ( Riezan, Iing, Reli, Fahmy, Iin, Lisa dan Saya).

Perjalanan Bandung – Cianjur

Kami berangkat pagi hari dari Bandung dengan mobil. Langsung menyusuri Tol Cipularang dan keluar di Padalarang untuk langsung menuju Cianjur. Alhamdulillah jalannya lumayan bagus. Kami hanya pengikuti petunjuk jalan yang mengarah ke Cianjur Kota. Kami sempatkan juga untuk membeli jajan di mini market di pinggir jalan dan membeli sawo, heheu. Tak selang berapa lama kami merasakan sedikit keanehan. Karena kami hanya bermodalkan Google Maps, dan benar kami sedikit nyasar dan berakhir pada salah jalan melewati pemukiman penduduk, padahal sebenarnya ada jalan besar yang bertuliskan petunjuk untuk ke Situs Megalith Gunung Padang.

Untuk menuju ke area wisata ini memang lebih disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi, karena jaraknya lumayan jauh dari jalan protokol. Meskipun ada angkot (Jalur 43) yang lumayan banyak, tetapi akan membutuhkan transportasi tambahan seperti ojeg untuk sampai ke tujuan.

Stasiun Lampegan

Setelah kembali ke jalan yang benar, kami masih harus menempuh sekitar 8 km lagi dengan kondisi jalan yang tidak terlalu bagus.
Perasaan sedikit lega setelah kami melihat tanda keberadaan dari Stasiun Lampegan. Tujuan pertama kami. Memang biasanya yang mau berwisata ke Gunung Padang singgah terlebih dahulu di stasiun ini. Selain ada terowongannya, di dekat stasiun ini juga terdapat masjid, sehingga cocok untuk istirahat sejenah sembari melaksanakan ibadah setelah `digoyang` kondisi jalan sebelumnya.
Lampegan +652 MDPL

 

Terowongan

 

Tim Cianjur Hore

 

Duh mbak… senyumnya itu lho…

 

Menunggu kereta yang tak kunjung datang :’D

Menurut Wikipedia, nama Lampegan berasal dari kata yang sering disebutkan oleh Beckman, orang Belanda yang menjadi pengawas pekerja ketika memeriksa hasil pekerjaan pegawainya. Setiap melihat pegawai yang sedang bekerja di dalam terowongan, dia sering berteriak mengingatkan kepada pegawainya untuk tetap membawa lampu agar lebih aman dari bahaya kurangnya zat asam. “Lamp pegang…., lamp pegang”,
dia mengingatkan dalam campuran bahasa Belanda dan Indonesia. Maksudnya adalah agar pegawai membawa lampu.

Terowongan ini merupakan terowongan pertama di Jawa Barat yang letaknya di lintas kereta api yang menghubungkan Batavia-Bandung lewat Bogor/Sukabumi.

Situs Megalith Gunung Padang

Setelah puas transit, kami melanjutkan perjalanan ke arah Situs Megalith Gunung Padang. Alhamdulillah, jalannya lebih bagus daripada sebelumnya. Perjalanan bagian ini berjarak sekitar 5 km dengan pemandangan sekitar berupa perbukitan kebun teh.
Setelah parkir, hal pertama yang kami lakukan adalah mengkonsumsi sawo yang sudah dibeli tadi, haha. Cuaca kebetulan agak panas sehingga kenikmatan sawo bisa meningkat drastis (uopooo).
Dari gerbang utama hingga menuju tempat beli tiket sekitar 500 m, tapi jalannya sedikit menanjak. Satu hal yang harus menjadi perhatian; hati-hati dengan tawaran ojeg dengan tarif 5000 rupiah, karena memang sebenernya deket. Mungkin kalau temen-temen yang pernah jalan bareng saya pasti udah sering denger soal cerita ojeg di Trip Sumbing lalu. Bisa jadi bahan bully² soalnya, wkwk.
Dari gerbang utama menuju tempat tiket
Setelah membeli tiket, kami makan siang bareng terlebih dahulu. Banyak warung ko’ di sekitar tempat beli tiketnya. Setelah itu, kita langsung naik tangga nestapa yang tingginya sekitar 200 meter. Sebenarnya ada 2 jenis anak tangga, yaitu yang curam dan tidak. Yang curam merupakan anak tangga asli, sedangkan yang tidak adalah buatan. Nah, kami memilih naik yang curam. Situs ini sendiri berada di ketinggian 885 mdpl.
Makan siang dengan lauk khas Sunda buat modal naik tangga

 

Bersiap o/

 

Tangga Nestapa
Beres naik tangga + keringetan. Apa yang kami temukan?
Wah, kami menemukan peninggalan purbakala!!! Huahahaha. Subhanallah~

 

 

Oke, foto yang terakhir emang agak alay (maafkan kami).
Saran saya si kalau udah sampai di sini mendingan langsung nyari guide yang bisa menjelaskan tentang sejarah adanya situs ini. Jadinya bisa wisata religi, ga cuma lihat batu-batu, foto-foto tapi ndak tau artinya apa.

Khidmat mendengarkan Si Bapak cerita

Nilai Religi

Salah satu keunikan dari situs ini adalah sebuah punden berundak yang mempunyai ciri serba 5.

 

  1. Dikelilingi oleh lima gunung.
  2. Mempunyai 5 teras.
  3. Bentuk batuannya yang hampir semuanya 5 sisi dan berjenis andesit.
Konon katanya ini erat kaitannya juga dengan kodrat kita sebagai manusia yang tak lepas dari angka 5 (terutama umat Islam). Berbagai kewajiban 5 waktu, 5 ujung tubuh, dll.
Singgasana Raja
Selain itu, masih ada beberapa batu yang mempunyai tanda khusus.
Batu dengan bekas (seperti) tapak Maung

Menurut bapak guide, maung di sini belum tentu makna denotasi, karena bisa dihubungkan dengan konotasi Manusia Unggul yang berhubungan dengan 9 hal. (Duh sayang saya lupa banget ini apa aja).

Batu dengan tanda Kujang (Senjata Sunda)
Tanda Kujang di batu ini diyakini sebagai pertanda bahwa sudah adanya tempat ini di era Prabu Siliwangi. Kujang adalah senjata yang terkenal sebagai identitas Sunda.
Konon adalah tempat peristirahatan
Tempat peristirahatan diatas konon adalah tempat yang nyaman untuk duduk, pernah dicoba juga oleh Presiden SBY ketika berkunjung di sini.
Dan masih banyak cerita lainnya yang diceritakan oleh bapak guide yang bisa diambil hikmahnya. Pokoknya rugi kalau ga minta penjelasan dari si bapak guide. Untuk sewa guide sendiri dibayar seikhlasnya ko’.
Setelah beres wisata religi di sini kami sebenarnya masih ingin melanjutkan perjalanan ke curug, tetapi cuaca tidak mendukung. Bahkan sebelum kami turun tangga sudah turun hujan yang lumayan deras. Akhirnya kami cuma bisa buka snack dan ngopi bareng :’).
Kopi + Hujan
Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan pulang dengan wisata kuliner di dalam Kota Cianjur. Kali ini kami memutuskan untuk menikmati Sate Maranggi ‘Warujajar’ Cianjur yang ada di kawasan Jalan Arif Rahman Hakim. Enaknya dibahas di postingan lain ya (sok asik) :))
Mungkin itu dulu liputan dari perjalanan ke Situs Megalith Gunung Padang Cianjur, terima kasih buat yang sudah berpartisipasi dan membaca postingan ini. Buat yang pengen dan belum sempet ke sana, sekarang udah banyak open trip ke sana yang udah include transportasi dengan elf, jadinya simpel dan ga ribet. Selamat Mencoba! 😀
@ariffsetiawan

 

๏ 119 readers

One Reply to “Wisata Religi Situs Megalith Gunung Padang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *