Mudik Hore

Setelah 6 tahun terakhir mudik lebaran dari Bandung, akhirnya tahun ini saya pertama kali mudik dari Jakarta. Jadinya ya pertama kali juga masuk Stasiun Pasar Senen, heheu.

Siap berangkat dari St PSE
Jika biasanya saya mudik bareng teman-teman rombongan Purworejo atau bahkan sendirian (ko’ mesakke ya? hahahasyemm), kali ini saya mudik bareng rombongan macem-macem, yang disebut Tim Mudik Hore.
Ada yang dari Malang, Kediri, Jember, Solo, Salatiga, Magelang, Jogja dan saya sendiri Purworejo. Alhasil, waktu pemesanan tiket kereta di bulan Mei lalu terjadi diskusi panjang untuk menentukan akan naik kereta mana, yang tentunya diharapkan bisa menjangkau semua daerah tujuan itu. Tadinya ada beberapa pilihan kereta baik kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi. Dan tentunya tim hore ini lebih memilih yang murah meriah, wkwk. Ada beberapa pilihan seperti Krakatau Ekspres (Merak – Kediri), Majapahit Ekspres (Pasar Senen – Malang) dan Matarmaja Ekspres (Pasar Senen – Malang). Dan akhirnya pilihan jatuh pada kereta Matarmaja yang harganya Rp 65.000 kelas Ekonomi AC (fyi, kereta ini yang ada di film 5 cm itu, haha).
Komposisi tim hore ini otomatis terbagi menjadi 2, yaitu rombongan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk rombongan Jawa Tengah akan turun di Stasiun Solo Jebres, sedangkan rombongan Jawa Timur turun di stasiun tujuan masing-masing.
Karena namanya tim hore ya ada-ada aja kelakuan, mulai dari bawa barang makanan kecil yang banyak yang bisa bikin gerak dikit makanan jatuh, hingga ada yang bawa ramuan pisang ijo dari ibunda tercinta + sendok stainless steel buat dimakan di kereta (bukan sendok plastik! damn it.). Pokoknya lebih banyak kebutuhan tersier daripada kebutuhan primer dan sekundernya :)).
Misang Ijo
Selfie edisi mudik
Perjalanan kereta lewat jalur utara Jawa ternyata memang lebih cepat karena sudah double rel. Saya sendiri belum sempat tidur di kereta tiba-tiba sudah sampai Pekalongan, kemudian Semarang Poncol yang selanjutnya sudah Solo Jebres.
Sekitar jam 1 malam, rombongan Jateng turun di Stasiun Solo Jebres. Yang kemudian kami nyewa mobil buat mencari sahur yang asih kepagian juga. Rencana awal mau makan gudeg, tapi ternyata belum buka. Akhirnya kami mendarat di warung nasi liwet yang sebelahan sama Susu Segar Shi Jack yang sudah cukup populer di Solo.
Setelah makan, kami melanjutkan jalan-jalan sejenak di Galabo dan kawasan Gladag – Slamet Riyadi sambil menunggu ada angkutan ke rumah Whe di Kartasura.
Galabo

 

Nyobain monopod baru :’D

 

Angkringan Kawasan Gladag – Slamet Riyadi, Solo
Singkat cerita rombongan Jateng ini numpang (tidur) dulu di rumah Whe untuk masing-masing kembali ke kota masing-masing. Untuk rombongan Jatim, pokoknya setau saya udah checkin di kota masing-masing. Yang jelas Andit yang rumahnya Jember masih harus nyambung bis lagi dari Malang, ya resiko rumah di paling ujung sana lah ya, heheu.
Ya beginilah sedikit cerita mudik hore tahun ini, mudik pertama yang pake mampir-mampir dan ga langsung pulang ke rumah.Pripun cerita mudik sampeyan mas mbak sedaya? 😀

@ariffsetiawan

๏ 164 readers

2 thoughts on “Mudik Hore”

Leave a Reply