Semester ini adalah semester kedua saya kuliah S2 di ITB. Nah, ada satu mata kuliah namanya Pengembangan Aplikasi Media Interaktif dimana di mata kuliah ini tidak ada yang namanya UTS sama UAS. Cuma ada satu project buat bikin produk, aplikasi secara individu alias ngoding dewe-dewe ga pandang bulu mau cewek atau cowok, haha.
Dan mata kuliah ini adalah mata kuliah yang pesertanya campuran antara S1 dan S2 (mungkin jadi mata kuliah pilihan buat S1 tapi wajib bagi S2).

Pilihannya adalah pake Myo Armband, Intel Galileo, Leap Motion atau Intel Real Sense. Device masa kini bangetlah pokoknya. Karena devicenya seperti itu, hampir semuanya bikin game, walaupun sebenernya boleh juga bikin aplikasi interaktif atau 3D yang non-game.
Oiya, selama saya kuliah di ITB juga saya amati di sini itu lumayan hype banget iklim game developmentnya, jadi mahasiswanya banyak yang jago (banget) pake Unity. Ga heran juga banyak yang bikin Game Studio setelah lulus dari sini.
Di awal perkuliahan dosennya (yang merupakan Co-Founder sebuah Game Studio juga) sempat menyinggung soal kebiasaan mahasiswa di ITB ini yang katanya merupakan high quality deadliner alias suka mengerjakan project di akhir-akhir.
Di pertengahan kuliah dosen masih sering mengingatkan agar projectnya dikerjakan sesuai jadwal, tapi ya namanya mahasiswa tau sendirilah gimana, haha.
Singkat cerita, tibalah minggu UAS dan sudah saatnya presentasi akhir dari project individu itu. Nah, ternyata emang beneran kejadian apa yang dikatakan dosen dahulu kala saat di awal pertemuan.
Ada beberapa mahasiswa yang tidak berhasil menyelesaikan project itu karena berbagai alasan, dan mereka ngaku salah satunya karena deadliner.
Yang bikin saya takjub adalah ada satu mahasiswa S1 yang deadliner juga, seminggu sebelum UAS belum bisa beres project yang sesuai proposalnya dan memutuskan untuk ganti bikin project baru. Awalnya dia menggunakan Leap Motion dan ganti ke Myo Armband buat bikin game Kamehameha (battle menggunakan 2 Myo yang dipake oleh 2 orang, pake deteksi value tegangan otot tangan kita buat menentukan tenaga kamehamenya) dan gamenya itu bisa jalan dikerjakan selama 4 hari, walaupun masih satu gameplay sederhana semacam prototype. Tapi itu udah bisa jadi salah satu game yang fun dan paling heboh dibandingkan yang lainnya.
Harus saya akui deh mahasiswa-mahasiswa S1 di ITB ini emang luar biasa, maap saya ndak kuat saingan sama makhluk-makhluk yang begitu, haha.
Mantep ya? Saya rasa di kampus-kampus Informatika lain di Indonesia masih sedikit banget yang iklim game developmentnya gede kayak di sini.
Semoga kampus lain juga ketularan ya.
Nanti kalau ada cerita menarik lagi dari kampus ini juga bakal saya share lagi. Thanks for reading.
@ariffsetiawan

๏ 95 readers

One Reply to “High Quality Deadliner”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *