Bandung Setelah Peringatan KAA

Bandung memang bisa dibilang bukanlah yang terbaik dalam hal tata kota, bahkan menurut saya cenderung kurang teratur. Mungkin karena sedikit banyak pengaruh Kolonial Belanda kala itu yang menjadikan Bandung menjadi kota peristirahatan, hingga muncul istilah Paris van Java. Kota yang juga identik dengan bangunan-bangunan etnik Eropa.

“Nederlanders, mengapa pulang ke Eropa? Tetaplah tinggal di Hindia! Kalian yang sudah pulang, kembalilah dan bermukimlah di Bandung!” (Walikota Bandung W. Kuhr dalam Majalah Mooibandoeng).

Kutipan di atas diambil dari salah satu tulisan oleh Komunitas Aleut yang sempat “menyentil” tentang Kota Bandung.

Bandung yang sekarang adalah salah satu kota tujuan wisata, terutama warga Ibukota yang tiap akhir pekan dapat dengan sabar berlalu-lalang di sepanjang Tol Cipularang demi menghabiskan sebagian waktunya di Kota Bandung. Maka jangan heran jika Bandung di akhir pekan adalah kota yang dihiasi oleh sedikit kemacetan dan kendaraan dengan plat dari luar Kota Bandung.

Bandung Setelah Peringatan KAA

Dengan Walikota yang sebelumnya berprofesi sebagai Arsitek, maka tak heran jika untuk masalah peringatan hal besar seperti Konferensi Asia Afrika Bandung pun semakin bersolek. Meskipun sebenarnya belum terlalu banyak berubah dari sisi bentuknya, tapi Bandung yang sekarang jelas lebih baik dari sebelumnya.

Bandung yang sekarang menjadi Bandung yang tak pernah sepi wisatawan domestik maupun mancanegara, wisatawan yang biasanya selau berkunjung ke daerah Bandung Utara dan Selatan kini mulai membagi tujuannya ke jantung kota, terutama di sekitar Kawasan Jalan Asia Afrika. Mungkin demi melihat hasil karya sebuah roda pemerintahan atau pun hanya aktualisasi diri dan eksistensi di dunia sosial.

***

Kebetulan waktu itu Saya, Jessie dan Nashir (temen sepedaan) menyempatkan diri untuk bersepeda dengan tujuan akhir ke Museum KAA. Karena penasaran juga, tinggal di Bandung tapi belum pernah sekalipun mampir ke kawasan yang sedang cukup populer diperbincangkan di media sosial itu.

Begitulah.

IMG_1858
Sepedaan di Bandung, kenapa tidak?
IMG_1860
Berbagai macam Iket Sunda
IMG_1861
Persib!
IMG_1863
Ujung Jalan Braga
IMG_1866
Cikapundung Riverside
IMG_1871
Jalan di samping Museum KAA, kini tak boleh dilewati kendaraan.

IMG_1865 IMG_1876 IMG_1879

Dan masih banyak potret lain di sekitar kawasan ini dan sekitar Alun-Alun Bandung.

Masih kurang?

Sok mangga ke Bandung untuk menyaksikan sendiri.

Tapi jangan heran jika suasana lumayan penuh sesak, usahakan waktu weekdays saja, heheu.

๏ 500 readers

3 thoughts on “Bandung Setelah Peringatan KAA”

  1. Pingback: #NolKilometer Bandung — Arif Setiawan

Leave a Reply