Sudah mendekati tengah malam, dan sedikit drama sebelumnya, akhirnya kami menemukan hostel yang kami rasa cukup terjangkau, dan nyaman. Yaitu Raymond’s Boutique Travellers Home, dengan tarif RM 70 sehari semalam untuk kamar dengan kapasitas 4 orang.

20140818_084543Setelah kami lihat-lihat ternyata Uncle Raymond ini cukup aktif di dunia maya untuk mempromosikan hostelnya ini, mulai dari rajinnya mengunggah foto di Facebook, hingga eksis di Airbnb, Agoda, dan situs online booking lainnya.

Malaka adalah salah satu ikon kota historis di Malaysia. Salah satu hal yang bisa dinikmati oleh wisatawan adalah berkeliling kota dengan moda transportasi sepeda (bisa sewa di minimarket terdekat di sekitar Jonker Street).

Dengan bersepeda pula bisa dijangkau salah satu kuliner halal favorit, kemudian menyeberang ke Pulau Melaka. Kebetulan kala itu Malaysia juga sedang menyambut Hari Kemerdekaannya, sehingga suasana kotanya pun penuh dengan bendera.

20140818_092413 20140818_095504 20140818_095705 20140818_100006 20140818_100132

20140818_100209

20140818_103334
Chicken Rice Balls

Yang menjadi sorotan utama dari Pulau Melaka adalah adanya Masjid Selat Malaka yang berada di pinggir pantai dengan setengah bagian masjidnya ada di atas laut dan langsung menghadap ke Selat Melaka. Selain ada juga beberapa cerita mistis pada bangunan-bangunan tua di sana, konon katanya.

920 moodus_20140818_11_36_14_Pro 20140818_124607

Setelah numpang ibadah sholat dzuhur di Masjid ini, kami kembali ke kota Melaka dengan bersepeda pula, dengan kondisi yang puanas banget waktu itu, sampai akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke salah satu mall untuk merasakan nikmatnya AC dan minuman dingin.

Walaupun begitu, cuaca tidak menghalangi kami untuk melanjutkan jalan-jalan mengelilingi kota historis ini.

20140818_142019
Sungai Melaka

20140818_141913 20140818_143833 20140818_154303

Setelah dirasa cukup puas, kami akhirnya mengembalikan sepeda ke minimarket tempat sewa sepeda, packing barang di hostel, kemudian dilanjutkan jalan-jalan sebentar melihat Jonker Street di sore hari.

20140818_154707 20140818_161228

Tujuan kami selanjutnya adalah ke Johor Bahru, kota yang merupakan gerbang penghubung dengan Singapura. Sebelum meninggalkan Melaka kami sempat bertemu dengan satu orang Jerman yang kebetulan sedang menunggu bis yang sama tapi dengan tujuan yang berbeda, yaitu ke Kuala Lumpur. Bagian paling ngeselinnya adalah cerita dia yang sudah jalan-jalan hampir 3 tahun keliling Asia. Asem tenan! Padahal kami cuma jalan 4 hari untuk kemudian balik lagi nguli di Tanah Air.

20140818_161416
Melaka 1 Km

20140818_172239

Terima Kasih Melaka, see you next time.

๏ 508 readers

2 Replies to “Perjalanan Singapura dan Malaysia Part 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *