Seperti biasa, di hari terakhir bulan Ramadhan sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri keluarga saya selalu melakukan acara ziarah ke makam bareng-bareng, mulai dari mbah kakung, bapak, ibu, hingga om, bulik beserta anak istrinya.

Setelah acara itu beres, akan selalu diselingi dengan cerita yang diulang tiap tahun.

Kalau di sini halal bi halal buat lebarannya bukan besok, tapi 3 hari lagi.

Ya, konon katanya di daerah simbah saya yang ada di kawasan Grabag, Purworejo ini masih mengikuti aliran Islam Aboge (Alip-Rebo Wage). Konon aliran ini disebarluaskan oleh ulama Raden Rasid Sayid Kuning dari Pajang.

Wilayah yang masih mengenal aliran ini adalah dari Purworejo bagian barat, Kebumen hingga wilayah Banyumas jika berbicara lingkup Jawa Tengah.

Perhitungan yang digunakan merupakan gabungan perhitungan dalam satu windu dengan jumlah hari dan jumlah pasaran hari berdasarkan perhitungan Jawa yakni Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing. Sehinga menghasilkan hari yang berbeda untuk penentuan hari lebaran.

Namun, di tempat simbah saya sepertinya aliran ini sudah mulai berasimilasi. Tidak seperti informasi yang ada pada hasil pencarian saya ini, yang memulai puasa ramadhan dan sholat Ied yang berbeda selisih (biasanya) sekitar 2 hari, di sana untuk tanggal pelaksanaan puasa ramadhan dan sholat Idul Fitri sudah mengikuti jadwal secara bersama-sama, cuma tinggal pelaksanaan halal bi halalnya yang masih tertunda 2 hari dari yang lainnya.

Jadi jadwal makan-makan dan berbagi uang saku lebarannya juga telat dari yang lainnya.

Bagaimana dengan daerah kalian? Apakah masih menemukan aliran seperti ini?

๏ 36 readers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *