Beberapa minggu lalu saya berkesempatan berkunjung ke Kota Semarang untuk mengikuti rangkaian acara dari Kementerian Perdagangan dalam rangka sosialisasi sistem informasi perdagangan online terutama untuk komoditas pangan di Indonesia.

Dalam perjalanan pulang menuju ke Bandara Ahmad Yani saya melihat ucapan selamat datang di sebuah papan reklame besar di pinggir perempatan. Isinya tentang penyambutan Gubernur Jawa Tengah Pak Ganjar Pranowo yang ditujukan kepada Perdana Menteri Singapura yang akan berkunjung ke Kawasan Industri Kendal.

Sontak saya langsung ingin tahu ada apa gerangan dengan Jawa Tengah sekarang ini? Naluri akan perkembangan tentang provinsi kelahiran pun bekerja.

Kawasan Industri Kendal
Kawasan Industri Kendal

Ternyata beberapa tahun ini sedang dibangunlah sebuah kawasan industri di wilayah Kabupaten Kendal, daerah satelit untuk Kota Semarang, yang konon diluncurkan sekitar pertengahan tahun 2016. Penyelenggaranya adalah PT Jababeka Tbk. Dan salah satu investor dan partner utamanya dari Singapura, makanya sampai datanglah Bapak Perdana Menterinya ke sini.

Selain itu juga masih ada investor dari China, Jerman, Singapura, Amerika Serikat dan Indonesia sendiri dengan sektor industri yang beragam. Mulai dari furnitur, suku cadang kendaraan, makanan, hingga tekstil. Tumben ga ada investor dari Jepang.

***

Oke, Jawa Tengah yang sekarang sudah sedikit berbeda. Gumam saya dalam hati.

Karena biasanya kabar saya dengar adalah kalau ga bencana, bupati yang ditangkap karena korup, masalah pertanian, dunia pendidikan dan atau berita duka lainnya.

Urbanisasi

Melihat kondisi yang sekarang ini saya langsung refleks buat ngetweet, haha.

setuju si kalau kawasan industri mulai digeser ke Jawa Tengah, ga di sekitar Bekasi, Cikarang, Karawang aja

bisa split urbanisasi

Entah kenapa topik urbanisasi pun ada dalam benak saya. Karena sebuah kawasan industri bakal identik dengan lapangan kerja yang masif, terutama untuk kalangan menengah ke bawah yang sering digolongkan sebagai buruh. Ya nggak??

Saat ini, menurut saya, salah satu penyumbang kepadatan penduduk di sekitar kawasan ibukota dan beberapa kota satelit di sekitarnya ya karena kawasan industri yang masih terlalu tersentralisasi. Efeknya para pencari kerja akan berbondong-bondong berpindah ke tempat yang sama.

Dengan adanya pembukaan kawasan industri baru ini saya sangat setuju dan bisa merasakan sedikit optimisme bahwa negara ini sudah meningkat kesadaran akan namanya pemerataan pembangunan. Seenggaknya jangan ke plat B terus.

Permasalahan lain yang kemungkinan akan berkaitan dengan pembukaan kawasan baru adalah infrastruktur transportasi dan logistik yang harus memadai. Buat apa ada kawasan baru jika akses dari dan ke sananya masih bermasalah. Malah jadi ga efektif. Ya kan?

Semoga itu juga sudah ada solusinya.

***

Untuk Jawa Tengah sendiri saya sempat mempunyai ide juga, tentang pembagian potensi daerah. Daerah pantai utara bisa dijadikan kawasan industri (Batang, Kendal, Semarang, Jepara, Pati) dan pelabuhan (Tegal, Semarang, Jepara). Sedangkan daerah selatan bisa dijadikan kawasan wisata (Cilacap, Kebumen, Wonosobo, Magelang) dan pertanian (Wonosobo, Kebumen, Purworejo, Wonogiri, Klaten). Daerah lainnya bisa menjadi kawasan pendidikan (Purwokerto, Solo, Ungaran), dsb.

Ya mungkin itu sedikit pendapat saya tentang kondisi Jawa Tengah saat ini.

Lanjutkan terus perdjoengan Pak Ganjar Pranowo dan segenap jajaran. Semoga benar terwujud slogan #JatengGayeng nya. Dan bisa menggagalkan gerakan Urbanisasi Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang dimulai dari Jawa Tengah.

Salam.

Sumber : Yap Thian Hien, The President Post

๏ 33 readers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *