It is nearly impossible, i think.

Dari berbagai hal, untuk sebuah perusahaan besar membicarakan penerapan metodologi agile adalah bullshit.

Ya, saya menyimpulkan seperti itu karena akhir-akhir ini juga terlibat di sebuah project dengan beberapa korporasi yang tentunya software developmentnya “divendorkan”. Sehingga sedikit banyak dapat mengamati budaya software development yang digunakan. Didukung pula dengan artikel di Tech in Asia ini.

Sebuah perusahaan besar tentunya mempunyai tim yang besar pula. Dan disitulah salah satu hambatan mayor untuk penerapan sebuah metodologi agile.

“Kan bisa diterapkan di masing-masing tim yang kecil, mas.”

Ok, tapi culture dan semangatnya sudah sangat beda. Dua hal yang mana tim besar tidak bisa berkompetisi dengan tim kecil.

Agile Manifesto

Dari gambar di atas sudah terlihat bahwa metodologi agile lebih mengedepankan interaksi individual dibandingkan dengan proses dan tools yang digunakan. Sudah menjadi budaya bahwa meeting dilakukan secara daily untuk melaporkan apa saja yang dikerjakan di hari sebelumnya, apa yang menjadi hambatan dan apa saja yang dikerjakan hari ini. Apakah tim di perusahaan besar dapat melakukan itu? Tentu saja masih sulit.

Yang kedua, metodologi agile lebih mengedepankan bekerjanya sebuah fungsi dibandingkan software mempunyai dokumentasi yang bagus. Apakah perusahaan besar bisa melakukan itu? Tidak. Stakeholder akan lebih memilih mendesak proses pengerjaan agar dokumentasi selesai tepat waktu dibandingkan prioritas “fully tested software”. Ditambah dengan persoalan administratif seperti lisensi yang berpengaruh pada pemilihan teknologi yang digunakan dibandingkan prioritas tentang performansi teknologi.

Yang ketiga, sudah jelas. Dasar pengerjaan karena tuntutan dokumen legal kontrak dibandingkan dengan semangat kolaborasi.

Yang keempat, perusahaan besar akan cenderung akan selalu mengunci sebuah bisnis proses dalam waktu yang cukup lama dibandingkan dengan dengan melakukan perubahan secara berkala dengan sistem sprint. Salah satunya yaitu masalah pervendoran tadi yang mana pengaruhnya dengan budgeting dan waktu pengerjaan. Biasanya juga vendor yang mengerjakan belum menerapkan billing dengan sistem per sprint. Masih dengan gaya lama dihitung hanya berdasarkan target waktu dan fungsionalitas. Bukan progress.

***

Bagaimana? Ada yang berpendapat lain?

๏ 43 readers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *