Perjumpaan Pertama dengan Hanoi

Menghabiskan dua hari di Luang Prabang saya rasa belum cukup sebenarnya, karena masih banyak tempat-tempat menarik yang belum sempat kami jelajahi. Namun, karena keterbatasan waktu dan budget tentunya maka kami harus melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya seperti yang sudah direncanakan, yaitu Hanoi, ibukota Vietnam.

Luang Prabang International Airport (LPQ)
Lao Airlines

Kami menggunakan maskapai Lao Airlines, maskapai nasional dari negara Laos yang ternyata sampai sekarang secara operasionalnya masih join dengan Vietnam Airlines. Pesawatnya pun kebanyakan masih pesawat baling-baling kayak Wings Air kalau di Indonesia.

Dari Luang Prabang ke Hanoi terdapat beberapa pilihan transportasi yang bisa digunakan. Selain dengan penerbangan langsung ini yang harga tiketnya sekitar 1 hingga 1,5 juta rupiah dengan waktu tempuh sekitar 1 jam kita juga bisa menggunakan jalur darat yaitu bus. Namun, waktu tempuhnya lumayan lama sekitar 30 jam dengan jalur yang kurang bersahabat. Hingga konon ada yang bilang jalur darat Luang Prabang – Hanoi adalah bus ride from hell.

Useful Lao Words

Selama di pesawat meninggalkan Laos malah nemu ini *telat*, hahaha.

***

Mendarat di Noi Bai International Airport (HAN) kami langsung disuguhkan kembali dengan hiruk pikuk kehidupan bandara yang megah dan sibuk. Setelah antri di imigrasi yang lumayan panjang, kami pun harus menunggu Uber yang lumayan drama karena wifi airportnya juga lelet banget, haha.

Hanoi Rocks Hostel

Hanoi Rocks Hostel
Di dalemnya isinya pada party, wkwk

Setelah Uber datang, kami langsung diantarkan ke Hanoi Rocks Hostel, salah satu hostel yang ratingnya paling tinggi di sini. Yang memang sudah kami pesan sebelumnya. Sampai di sana di dalamnya ternyata isinya turis-turis pada party di bar lantai dasar hostel, wkwk.

Rawks!

Saya tidak sempat mendokumentasikan kondisi di dalam hostel ini, tapi sudah ada di blog teman saya, Mira. Overall servicenya udah bagus banget. Dengan tarif USD 5 per malam kami sudah dapat sarapan, kamar dengan bunk bed isi 16 dan yang paling penting … wifinya kenceng, heheu.

Old Quarter

Karena kami hanya punya waktu 1 hari 2 malam di Hanoi dan esok hari sudah ikut tour, jadi ya cuma malam itu kami bisa jalan-jalan di kota ini. Itu pun cuma di sekitar Old Quarter saja. Saya dan Riwe ngikut Mira aja yang sudah pernah ke sini.

Hal pertama yang kami lakukan adalah nyari makan. Karena ini di Vietnam, konon kita harus makan yang namanya Pho dan Kopi Vietnam tentunya. Pho bentuknya adalah mie berkuah + sayuran disajikan mirip dengan ramen tapi kuahnya bening. Bisa milih isinya daging apa (ayam, sapi atau babi). Saat itu kami makan di Hanoi Soul Cafe, yang tempatnya strategis sambil melihat aktivitas masyarakat di sekitar Old Quarter.

Menu Hanoi Soul Cafe
Pho + Beef
Kopi Vietnam di Vietnam, ntap!
Old Quarter

Hoan Kiem Lake

Setelah selesai dengan urusan perut, kami lanjutkan untuk jalan-jalan memutari Hoan Kiem Lake. Danau di tengah kota yang dikelilingi bangunan dengan lampu-lampu yang indah.

Di sebelah danau ini juga terdapat beberapa landmark simbol perjuangan negara Vietnam.

Quyết tử để Tổ quốc quyết sinh

***

Satu hal lagi yang bikin saya takjub dengan Hanoi selain pengendara motornya yang ga pake aturan dan bikin jalan semakin semrawut + bikin spaneng adalah banyak yang jajan makan (yang sebagian besar menunya Pho) di depan ruko pinggir jalannya pake dingklik (kursi kecil dari bahan plastik).

Kalau di Indonesia kan masih pake meja sama kursi plastik gitu lah ya seenggaknya. Kalau ini mereka chill ramean aja makan di pinggir jalan gitu. Kesannya malah jadi agak jorok, hahaha.

Seperti itulah perjumpaan pertama saya dengan Hanoi. Cukup mengesankan dengan segala kesemrawutannya. Tapi yang paling bikin senang adalah nilai mata uang Vietnam Dong yang lebih rendah dari Rupiah jadi berasa kaya banget di sini, hahaha.

๏ 28 readers

2 thoughts on “Perjumpaan Pertama dengan Hanoi”

Leave a Reply