Skip to content
Arif Setiawan
Arif Setiawan

travel, culinary and technology

  • Home
  • About
  • Travel
    • Indonesia
      • Bali
      • Banten
      • Jakarta
      • Jawa Barat
      • Jawa Tengah
      • Jawa Timur
      • Kalimantan Selatan
      • Lampung
      • Sumatera Barat
      • Sumatera Utara
      • Yogyakarta
    • Laos
    • Malaysia
    • Singapore
    • Vietnam
  • Culinary
  • Technology
    • Startup
    • Software Development
    • Social Media
  • #kulinersince
  • Nol Kilometer
Arif Setiawan

travel, culinary and technology

Situ Cisanti, Kilometer 0 Citarum

Arif Setiawan, September 10, 2017March 9, 2018

Siapa yang tidak kenal dengan Sungai Citarum?

Salah satu sungai utama yang ada di Jawa Barat ini memang sudah sangat terkenal, tetapi untuk saat ini lebih banyak dikenal dari sisi negatifnya, yaitu airnya yang keruh, banyak mengangkut sampah yang merupakan limbah dari penduduk yang tinggal di sekitar Sungai Citarum dan sumber banjir di Bandung Selatan ketika musim hujan. 

Dan siapa sangka jika bagian hulu dari sungai ini adalah daerah berupa danau yang indah. Danau tersebut adalah Situ Cisanti. Di situ inilah terdapat mata air di kaki Gunung Wayang yang berperan sebagai sumber air awal Sungai Citarum. Daerah yang masih masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung ini dikelilingi oleh beberapa gunung di wilayah Bandung Selatan seperti Gunung Wayang, Gunung Rakutak, Gunung Malabar, Bukit Bedil dan Gunung Kendang yang berbatasan dengan Kabupaten Garut.

Situ Cisanti ini juga mempunyai nilai sejarah, karena merupakan sebuah petilasan (tempat persinggahan) dari Dipatiukur, yang merupakan seorang wedana para bupati Priangan pada abad ke-17. Dipatiukur memimpin pasukan untuk menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1628.

Camping di Situ Cisanti

Di sekitar Situ Cisanti ini sangat cocok untuk dijadikan area camping bersama teman-teman. Di sana kita bisa bersantai di pinggir danau, menikmati pemandangan dan kesejukan hawa pegunungan serta air danau yang jernih.

Saya bersama Geng F30 + Lisa berkunjung ke sini ketika tahun baru 2017. Salah satu penyebabnya karena ada temen yang share pernah camping di sini.

Kami berangkat dari daerah kampus Telkom University sore hari. Perjalanan menuju lokasi ditempuh sekitar 2 jam, sehingga sampai lokasi sudah petang. Kami melewati jalur Bojongsoang – Ciparay – Pacet.

Dan karena malam tahun baru, ternyata lumayan banyak juga yang camping di sekitar Situ Cisanti ini. Seteah selesai mendirikan tenda, seperti biasa kami menghabiskan malam dengan bermain game, masak-masak dan ngobrol ngalor ngidul. Enaknya adalah karena di sini ada bapak-bapak yang menawarkan kayu bakar untuk api unggun beserta jasa untuk membantu menyalakannya. Beruntunglah kita jika apinya bisa bertahan lama sehingga bisa membantu menghangatkan ketika suhu udara semakin dingin di malam hari.

Di malam harinya kami melihat beberapa kembang api sebagai pertanda pergantian tahun. Ya memang tidak seheboh di kota, tetapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali.

Pagi harinya barulah kami benar-benar bisa menyaksikan keindahan dari Situ Cisanti ini.

Situ Cisanti di pagi hari
Situ Cisanti yang jernih airnya

Melihat pemandangan yang indah tersebut sambil menyeduh kopi yang kami pesan di warung sekitar, kami pun penasaran untuk melihat sekeliling.

7 Mata Air
Kilometer 0 Citarum

Geng F30

Harga Tiket

Untuk memasuki area Situ Cisanti kita harus membayar tiket Rp 7.500 per orang, Rp 2.000 untuk motor dan Rp Rp 5.000 untuk mobil.

***

Begitulah sedikit liputan kunjungan kami ke Situ Cisanti, tempat ini sangatlah cocok bagi kalian yang suka camping dengan budget yang murah dan bisa dilakukan sehari semalam saja.

Selamat Berkunjung! 😀

Related

Indonesia Travel BandungCitarumF30Jawa BaratNol KilometerSitu Cisanti

Post navigation

Previous post
Next post

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular Posts

  • Game Development Life Cycle
  • What Most Schools Don't Teach
  • Nguping Twitter #12 CV yang OK?
  • LXDE, Desktop Ringan untuk Linux
  • Asuransi Travel Domestik dan Internasional: Ini Perbedaannya
  • Kepiting Gemes Pak Mamo Pemalang Sejak 1989
  • Bebek Palupi Surabaya Sejak 1990

Recent Posts

  • Sate dan Tengkleng Kambing Pak Manto Solo Sejak 1990
  • Jalan-Jalan ke UNS Surakarta
  • Soto Timlo & Ayam Goreng Samson Yogyakarta
  • Senja Pagi Ngablak Magelang: Menikmati Kopi dengan Panorama Tujuh Gunung
  • Teras Nyah Dewi Magelang: Nongkrong dengan Nuansa Tempo Dulu yang Estetik

Categories

Archives

Subscribe

Enter your email address to subscribe to this blog.

Travel

  • Jalan-Jalan ke UNS SurakartaApril 9, 2026
  • Senja Pagi Ngablak Magelang: Menikmati Kopi dengan Panorama Tujuh GunungApril 7, 2026
  • Stasiun Surabaya GubengMarch 30, 2026
  • Monumen Gerbong Maut BondowosoMarch 28, 2026
  • Ziarah ke Puger Jember Jawa TimurMarch 26, 2026

Culinary

  • Sate dan Tengkleng Kambing Pak Manto Solo Sejak 1990April 25, 2026
  • Soto Timlo & Ayam Goreng Samson YogyakartaApril 8, 2026
  • Teras Nyah Dewi Magelang: Nongkrong dengan Nuansa Tempo Dulu yang EstetikApril 6, 2026
  • Ayam Goreng Mbok Berek Jogja Sejak 1830April 5, 2026
  • Pepes Gapeswathi Rest Area Tugu Ireng Perbatasan Jogja–MagelangApril 4, 2026

Technology

  • Mencegah Website Down saat Flash Sale dan Lonjakan TrafficFebruary 18, 2026
  • Hosting Terbaik 2026 untuk Website Pribadi, Portofolio, dan StartupFebruary 8, 2026
  • Nevacloud vs Hostinger VPS Global: Pilihan Terbaik untuk Pengguna IndonesiaDecember 13, 2025
  • Apa Bedanya VPS dengan Hosting BiasaDecember 5, 2025
  • Perbedaan Domain .COM, .ID, dan .NETNovember 5, 2025
©2026 Arif Setiawan | WordPress Theme by SuperbThemes
 

Loading Comments...