Gunung Galunggung 2167 MDPL

Lagi-lagi ini adalah piknik dadakan yang memang kemungkinan besar bakal jadi, daripada piknik yang kebanyakan rencana tapi entah kapan mau dieksekusi. Masih bareng Geng F30 (Saya, Jody, Andit, Whe) ditambah dengan Bagas, Nanda dan makhluk super geek Byan.

Seperti biasa perjalanan diawali dari Bandung dengan menggunakan mobil rental menuju Tasikmalaya dengan sopir Kak Bagas, teman perjalanan dengan skillset paling lengkap idola kita semua, hahaha. (*bikin invoice abis promosiin)

Gunung Galunggung yang memiliki ketinggian 2.167 MDPL ini merupakan salah satu gunung berapi aktif di Jawa Barat dan salah satu kawasan wisata andalan Kabupaten Tasikmalaya. Lokasinya sekitar 17 km dari pusat kota.

Kawah Gunung Galunggung

Drama selama perjalanan seperti ini udah hampir pasti jadi hal yang terduga ya. Namun, kali ini sesampainya di kawasan kaki Gunung Galunggung kami mengalami drama yang lebih epic dari biasanya.

Mobil ga kuat nanjak, alhasil kami harus turun sebelum area parkir yang dituju. Mobil harus diparkir ke area yang lebih bawah.

Komunikasi susah. Udah kondisi susah sinyal, sekalinya bisa ngenet e malah lihat yang abis markir mobil (Bagas + Whe) insta story lagi ngopi padahal yang lain nunggu lama ga jelas di saung sambil lihat hujan. Kan kesel.

Saling mencari di antara kabut tebal. Ini efek domino dari drama yang kedua itu si, karena ga ada komunikasi akhirnya kami memutuskan untuk naik terlebih dahulu. E ga taunya Bagas + Whe udah naik duluan lewat jalur yang berbeda udah sampai kawahnya dan baru ketemu setelah melihat topi ayam jago yang khas dipake Bagas di antara kabut tebal.

Ind*mie rasa nusantara. Setelah mendirikan tenda dengan cepat sembari berpacu dengan rintik hujan, kami melanjutkan kegiatan masak-memasak seperti biasa dan setelah dibuka ternyata bahan makanannya beda rasa semua. Dengan bumbu campur-campur ind*mienya jadi berasa ada mint-nya. Hasil karya Byan kalau ini, dia yang belanja.

Tenda kami dirikan tepat di pinggir kawah Gunung Galunggung, kebetulan tempatnya agak luas dan datar, enak banget buat camping. Kebetulan lagi sepi juga, jadi kami bebas mendirikan dimana saja. Cuma ada 1 warung yang ditungguin sama bapak-bapak di sudut cekungan kawah. Dan itu yang bikin santai dan memastikan bahwa kita tidak akan kekurangan makanan, wkwk.

Menaiki sekitar 600 anak tangga di antara kabut
Pinggiran kawah yang cocok buat camping

Pagi harinya, di tengah hawa dingin yang cukup bisa menembus jaket bisa dilihat pemandangan khas kawah hijau yang diselimuti kabut di atasnya dengan latar bukit yang terkena sinar matahari. Terapi mata banget bagi kami yang biasa berkutat dengan layar gadget setiap harinya.

Kegiatan yang bisa dilakukan di sekitar kawah ini adalah jalan-jalan mengelilingi kawah, bermain di sungai kecil, menikmati sunrise dan jajan di warung, wkwk. Doing nothing juga boleh.

Ketika matahari mulai menanjak, kami memutuskan untuk membereskan tenda dan turun gunung. Kami harus menuruni sekitar 600 anak tangga (lagi).

Sampai di bawah, kami jajan gorengan kemudian mendapatkan isu bahwa ada kolam air panas. Seketika kami yang orang-orangnya latah soal beginian tanpa berpikir panjang langsung tertarik ke sana. Namun ternyata kolamnya biasa aja dan penuh sesak warga lokal, wkwkwk. Alhasil cuma sebentar kami berendam dan langsung memutuskan untuk pulang saja ke Bandung.

Demikian liputan perjalanan singkat ke Gunung Galunggung. Dapat menjadi alternatif weekend escape yang ga terlalu effort, tinggal naik tangga :D.

 

***

Video Perjalanan :

๏ 25 readers

Leave a Reply