Wadai dalam bahasa Banjar berarti kue. Pasar Wadai sudah menjadi tradisi puluhan tahun di kota Banjarmasin dan kota-kota lain di Kalimantan. Tujuannya adalah untuk melestarikan budaya Banjar melalui kue dan memperkenalkan kembali keberadaan berbagai wadai yang ada di Banjar kepada masyarakat, selain untuk meramaikan suasana Bulan Ramadhan. Ya, Pasar Wadai ini biasanya cuma ada saat bulan Ramadhan selama satu bulan penuh.

Pasar Wadai Ramadhan 2017

Kebetulan saya ke sana ketika bulan Ramadhan, sehingga sempat untuk mampir melihat-lihat suasana Pasar Wadai.

Lokasi dari Pasar Wadai di Kota Banjarmasin sendiri ada di Jalan R.E. Martadinata, di depan Kantor Wali Kota Banjarmasin. Konon itu lokasi sementara, biasanya diadakan di Siring Martapura yang sedang diperbaiki.

Suasana Pasar Wadai Banjarmasin

Bentuknya adalah sebuah event bazar seperti pasar kaget atau car free day yang secara khusus menyajikan berbagai macam wadai (kue) khas atau tradisional masyarakat Banjar dan berbagai macam jenis kuliner, khususnya yang familiar disajikan sebagai menu berbuka puasa.

Penjual Kue di Pasar Wadai
Kue yang dijual harganya tidak terlalu mahal

Konon masyarakat Banjar mempunyai 41 jenis wadai tradisional yang dikenal dengan pakem atau sebutan wadai 41 sebagai warisan leluhur secara turun temurun yang dulunya ‘wajib’ disajikan dalam beberapa upacara adat, khususnya bagi keluarga bangsawan dan hartawan Banjar. Sebagian besar dari wadai ini memiliki rasa yang manis yang legit di lidah sehingga sangat cocok sebagai menu untuk berbuka puasa.

 

Berbagai jenis wadai tersebut antara lain: bingka kentang, bingka barandam, wadai cincin, gagatas, kakalapun, putu mayang, amparan tatak, tapai, lam, lapis, pais pisang, wajik, agar-agar, untuk-untuk, lempeng pisang, dll. Meskipun didominasi oleh kue dengan cita rasa manis legit, tapi bukan berarti masyarakat Banjar tidak mempunyai kue-kue nikmat yang rasanya lain seperti gurih dan gurih manis. Sebut saja kue ipau yang sebagian masyarakat menyebutnya dengan pizza Banjar, petah, babungku, lamang, dsb.

Selain jenis kue, masyarakat Banjar juga mengenal beberapa jenis bubur atau semacam bubur dengan cita rasa manis yang sangat cocok untuk berbuka puasa, seperti hintalu karuang, bubur bayak, kokoleh, dsb.

***

Dulu Pasar Wadai ini memang didominasi oleh penjual kue, tetapi sekarang juga sudah banyak yang menyajikan kuliner ‘berat’ masakan khas Banjar seperti menu itik gambut, masak habang, haruan baubar, katupat kandangan, dsb. Selain itu, ada juga olahan kuliner yang identik dengan Timur Tengah seperti roti maryam, nasi samin, nasi kebuli dan aneka olahan dari daging kambing atau domba, seperti kambing guling, gulai kambing, kambing masak habang, kambing panggang, karih kambing, sop kambing, sate kambing dan banyak lagi yang lainnya. Para pedagang olahan kambing ini rata-rata adalah masyarakat keturunan Arab yang tinggal di daerah Kampung Arab, Banjarmasin. Bahkan sekarang juga sudah ada kuliner dari berbagai daerah di Indonesia yang tak terhitung jumlahnya.

Lengkap sekali pokoknya! Sampai bingung mau beli yang mana, hahaha.

***

Begitulah sedikit pengalaman saya jalan-jalan di kawasan Pasar Wadai Banjarmasin. Karena sudah malam hari jadi saya mungkin ketinggalan menu-menu andalan untuk berbuka puasa serta aktivitas budaya sungai masyarakat Banjar yang telah berusia berabad-abad yang lokasinya ada di Sungai Martapura, sebelah lokasi Pasar Wadai ini.

Selamat Berkunjung ke Banjarmasin ya! 😀

๏ 304 readers