Menambah khazanah tentang soto di blog ini, akhir tahun 2017 lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke salah satu kedai soto yang cukup terkenal di Surabaya, yaitu Soto Lamongan Cak Har.

Kedai soto yang diawali dari tahun 1992 ini sekarang sudah menjadi sangat ramai, mulai dari sehari terjual 7-8 mangkok, kini bisa terjual antara 800 hingga 1.000 mangkok. Yang tadinya cuma PKL di pinggir jalan, kini sudah ada 2 outlet besar di Kota Surabaya. Luar biasa ya.

Soto Lamongan Cak Har

Kebetulan saya berkunjung ke salah satu outletnya yang ada di Jalan Soekarno, Surabaya atau lebih dikenal dengan daerah Merr. Di sini tersedia tempat parkir yang cukup luas di halaman outletnya dan terdapat spanduk yang bertuliskan RM. Soto Ayam Lamongan “Cak Har”.

Sampai di dalam, ternyata benar, sudah ramai sekali suasananya. Dan kebetulan saya waktu itu bertepatan dengan hari minggu dan menjelang libur tahun baru.

Suasana kedai yang ramai

Beruntungnya waktu itu, Saya bersama Mira dan Junda tidak perlu bingung memesan tempat duduk  karena sudah janjian sama temennya Mira untuk ketemuan di sana. Alhasil kami langsung duduk dan memesan menu Soto Lamongan di sini.

Satu set porsi Soto Lamongan Cak Har

Karena di sini menunya soto ayam semua (hanya ada kombinasi tambahan seperti kulit, brutu, jeroan, uritan atau campur) jadinya ya pesannya itu, ditambah dengan es teh.

Kesan pertama setelah pesanan datang adalah …

Wow.. porsinya sadis!!!

Soto dihidangkan dengan satu mangkok besar yang kuahnya berwarna kuning. Sangat berbeda dengan menu soto di daerah seperti Yogyakarta, Jawa Tengah atau Jawa Barat yang lebih kecil porsinya.

Saya pun biasa makan soto lamongan di warung-warung tenda pinggir jalan tapi tidak sebanyak ini porsinya. Ternyata di dalamnya sudah ada nasi yang terendam oleh kuah dengan taburan daun seledri, potongan daging ayam yang melimpah dan juga bubuk koya yang sangat banyak. Bahkan kita bisa menambah dengan sesuka hati karena bubuk koyanya disediakan di toples yang ada di meja. Dengan adanya bubuk koya ini memberikan kesan kental dan sedikit bertekstur untuk sotonya.

Pengalaman yang cukup berbeda dirasakan di sini, karena biasanya jajan soto lamongan ga pake bubuk koya refill seperti ini, hahaha.

Makan soto (bagi saya) tentu kurang lengkap jika tidak ditambah dengan kecap. Di sana sudah disediakan kecap buatan industri lokal yang siap dicampurkan ke dalam hidangan.

Kecap Cap Jambu Mente

Salah satu yang paling saya suka jika jajan kuliner ke daerah adalah mengamati kecap lokal apa yang digunakan di daerah tersebut, karena cita rasanya berbeda-beda. Kali ini saya disuguhkan dengan Kecap Cap Jambu Mente yang diproduksi di Sidoarjo.

Selain tambahan kecap, jeruk nipis utuh yang dipotong ujungnya saja dan sambal juga disediakan untuk menambah kesedapan soto ayam di sini. Bisa disesuaikan dengan selera masing-masing.

Overall rasa sotonya jadi gurih setelah dicampur dengan beberapa tambahan tadi.

Selain porsi yang besar tadi, ternyata di sini masih ada yang lebih spesial lagi, yaitu dihidangkannya balungan ayam secara cuma-cuma jika diminta oleh pengunjung. Sadis ya, wkwk.

Bagi saya yang berasal dari Jawa Tengah sejujurnya kurang suka dengan rasa soto yang terlalu gurih, saya lebih suka dengan soto yang agak manis semacam Soto Kudus, hehehe. Tapi bagi kalian yang sedang berkunjung ke Surabaya soto ini wajib banget dicoba, karena sudah menjadi salah satu ikon kuliner di sana.

Harga

Harga satu porsi soto sekitar Rp 20.000

Lokasi

Jalan Dr Ir. H Soekarno (Merr) Surabaya

Jam Buka

Kedai ini buka dari jam 07.00 – 23.00 WIB.

๏ 666 readers