Membahas Nol Kilometer Magelang kurang seru jika tanpa membahas sejarahnya.

Tak disangka hari jadi Kota Magelang sama dengan tanggal lahir saya, yaitu 11 April 907 beda 1000-an tahun lebih. Magelang berawal dari sebuah desa perdikan Mantyasih, yang saat ini dikenal dengan Kampung Meteseh. Mantyasih sendiri memiliki arti beriman dalam cinta kasih. Di kampung Meteseh saat ini pun terdapat sebuah lumpang batu yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan Sima atau Perdikan.

Untuk menelusuri sejarah Magelang, setidaknya ada 3 prasasti yang bisa menjadi acuan, yaitu Prasasti POH, GILIKAN dan Mantyasih. Ketiganya merupakan prasasti yang ditulis di atas lempengan temaga.

Prasasti POH dan Mantyasih ditulis pada jaman Mataram Hindu saaat pemerintahan Raja Rake Watukura Dyah Balitung (898 – 910 M). Dalam prasasti ini disebut adanya Desa Mantyasih dan Desa Glangglang. Mantyasih yang kemudian berubah menjadi Meteseh, sedangkan Glangglang menjadi Magelang.

Desa Perdikan sendiri berarti daerah bebas pajak yang dipimpin oleh pejabat patih. 

Dalam prasasti itu juga disebut Gunung Susundara dan Wukir Sumbing yang kini dikenal dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Begitulah sejarah Magelang, yang berkembang menjadi kota dan ibu kota Karesidenan Kedu (1818) dan pernah juga menjadi ibukota Kabupaten Magelang. Setelah masa kemerdekaan kota ini berubah menjadi kotapraja dan kotamadya di era reformasi. Sejalan dengan pemberian otonomi, sebutan kotamadya ditiadakan dan diganti menjadi kota.

Setelah pemerintah Inggris ditaklukkan oleh Belanda, Magelang dijadikan pusat lalu lintas perekonomian. Selain itu, karena letaknya yang strategis dan udara yang nyaman serta pemandangan indah Magelang kemudian dijadikan Kota Militer, yang berlangsung hingga sekarang.

Titik Nol Kilometer

Lokasi dari titik nol kilometer Kota Magelang sendiri ada di salah satu sudut alun-alunnya. Tepatnya di depan Klenteng Liong Hok Bio.

Titik Nol Kilometer Magelang
Titik Nol Kilometer Magelang

Penandanya adalah tugu lampu yang tidak terlalu besar dan patok yang bertuliskan MGL 0.

Patung Pangeran Diponegoro
Patung Pangeran Diponegoro

Di sekitar area ini sudah sangat nyaman untuk pejalan kaki. Selain cukup teduh karena banyaknya pohon yang rindang, dengan berjalan kaki di sekitar sini kita sudah bisa menemukan beberapa bangunan yang bersejarah di sekitar alun-alun cukup ikonik dengan adanya bangunan menara air, patung Diponegoro, taman bunga dan tulisan MAGELANG yang menghadap ke timur.

Klenteng Liong Hok Bio

Klenteng Liong Hok Bio Magelang
Klenteng Liong Hok Bio Magelang
(Sumber : lensanasrul)

Sangat mudah dikenali, bangunan yang bernuansa merah dan abu-abu ini sudah ada di sini sejak tahun 1864. Didirikan oleh Kapiten Be Koen Wie alias Be Tjok Lok.

Masjid Agung

Masjid yang juga biasa disebut Masjid Kauman dibangun oleh KH Mudzakir yang merupakan ulama dari Jawa Timur pada tahun 1650. Awalnya hanya berbentuk mushola yang kemudian pada tahun 1779 resmi menjadi masjid. Tiang-tiang yang digunakan menggunakan kayu jati yang langsung didatangkan dari Bojonegoro.

Gereja Beth-El

GPIB Beth-El Magelang
GPIB Beth-El Magelang

Merupakan gereja tertua di Magelang, gereja ini sudah ada sejak tahun 1817 dengan arsitektur yang sangat khas, yaitu bangunan yang langsing dengan menara menjulang tinggi dengan pintu utama dan jendela berbentuk melengkung dan meruncing ke atas.


Alun-alun Magelang
Alun-alun Magelang
(Sumber : bakpiamutiarajogja)

Sangat menarik sekali, karena beberapa bangunan sejarah yang bahkan sudah ada sebelum Perang Diponegoro (1825 – 1830) ini hanya terpisahkan oleh alun-alun saja.

Menara Air

Selain itu, masih ada juga menara air yang hingga saat ini menjadi ikon kota ini. Sudah ada sejak tahun 1920, menara air / water toren (bahasa Belanda) ini masih berfungsi dengan baik hingga sekarang. Mampu menampung sekitar 1.750 juta liter air dan dulunya mampu memenuhi kebutuhan air untuk masyarakat Kota Magelang.


Mungkin itu sedikit cerita dari kunjungan ke Titik Nol Kilometer Magelang, bagi yang berkesempatan ke sana jangan lupa untuk mencoba pengalaman kulinernya juga, karena kuliner khasnya kupat tahu ada juga di sekitar alun-alun ini.

Selamat Berkunjung! 😀


→ 64 readers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *