Skip to content
Arif Setiawan
Arif Setiawan

travel, culinary and technology

  • Home
  • About
  • Travel
    • Indonesia
      • Bali
      • Banten
      • Jakarta
      • Jawa Barat
      • Jawa Tengah
      • Jawa Timur
      • Kalimantan Selatan
      • Lampung
      • Sumatera Barat
      • Sumatera Utara
      • Yogyakarta
    • Laos
    • Malaysia
    • Singapore
    • Vietnam
  • Culinary
  • Technology
    • Startup
    • Software Development
    • Social Media
  • #kulinersince
  • Nol Kilometer
Arif Setiawan

travel, culinary and technology

Tam Cốc, Ninh Bình, Vietnam

Arif Setiawan, July 18, 2017August 15, 2022

Setelah berwisata sejarah di Hoa Lư, kami melanjutkan tour ke tujuan berikutnya, yaitu Tam Cốc. Wilayah Hoa Lư, Tam Cốc dan Bích Động Pagoda merupakan bagian dari Tràng An Scenic Landscape Complex yang merupakan salah satu dari UNESCO World Heritage Site. Satu wilayah lagi yang juga bagian dari Tràng An yaitu Bai Dinh Temple, yang sayangnya tidak termasuk dalam rangkaian full day tour yang kami ikuti.

Tam Cốc

Tam Cốc sendiri artinya adalah tiga goa. Lokasinya ada di sepanjang Ngô Đồng River yang mana terdiri dari Goa Hang Cả, Hang Hai, and Hang Ba sebagai daya tarik utamanya. Wisatawan di sini dibawa dengan perahu kecil (yang disebut sampan) menyusuri sungai dari desa Van Lam, melewati sawah, batu kapur karst serta goa-goa dengan sistem bolak-balik. Goa-goa yang ada di sini rata-rata mempunyai ketinggian 2 meter yang terbentuk karena erosi. Terdapat juga banyak stalaktit yang bentuknya aneh-aneh.

Daerah ini dijuluki “In Land Ha Long Bay” karena mirip dengan Ha Long Bay tetapi lokasinya di daratan.

Starting Point Tam Cốc

Perjalanan akan ditempuh 1-2 jam sepanjang sekitar 7 km (pulang-pergi), diawali dengan antri untuk naik sampan di dekat area seperti terminal angkot. Idealnya satu sampan akan diisi oleh 3-4 orang wisatawan. Sebagian besar yang mendayung perahunya adalah wanita dan luar biasanya mereka menggunakan kaki. Namun, kebetulan kami dapat yang bapak-bapak. Dan di awal guide tour kami sudah mengingatkan pada kami “no dancing, no kidding” atau semacam itulah saya agak lupa, hahaha.

Baru beranjak sebentar kami sudah langsung takjub dengan pemandangan sekitar, kami langsung disambut oleh bukit-bukit karst khas Vietnam yang dihiasi oleh sungai dan perahu dengan pendayung bercaping, whoa… this is really Vietnam!

Hasil difotoin mamang perahu

Yang perlu diwaspadai adalah kita harus berhati-hati jika dipuji mamang perahu kalau kita ganteng dan muda, karena setelah itu dia akan memberikan dayung tambahan kepada kita buat bantu mendayung sampan. Beneran deh, wkwk.

***

Setelah melewati daerah bukit karst dilanjutkan dengan melewati goa pertama, kami disambut oleh daerah persawahan yang mengapit aliran sungai. Konon pemandangan terbaik dari Tam Cốc ini adalah formasi bukit karst, aliran sungai dan warna hijau kuning persawahan yang mengapitnya, yang menjadikannya eksotis sekali. Sayangnya kami ke sini ketika cuaca sedang mendung dan gerimis, jadi tidak terlalu maksimal, air sungainya pun jadi cokelat banget.

Di ujung goa ketiga terdapat semacam pasar terapung yang isinya warga berjualan makanan dan souvenir yang sayangnya terlihat sedikit maksa. Setiap perahu seperti diwajibkan untuk merapat terlebih dahulu ke sini. Tapi ya sangat dimaklumi di tempat wisata seperti ini di negara Asia ya.

***

Intinya sangat asik sekali di Tam Cốc ini, lebih asik benerannya dari pada yang terlihat di gambar, apalagi jika cuacanya cerah. Yang ada rencana ke Hanoi sempatkan untuk piknik ke sini, heheu.

243 readers

Related

Travel Vietnam featuredHang BaHang CảHang HaiHanoiNgô Đồng RiverNinh BìnhTam CocTràng AnUNESCOVietnamWorld Heritage

Post navigation

Previous post
Next post

Comment

  1. Pingback: Bích Động Pagoda, Ninh Bình, Vietnam — Arif Setiawan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular Posts

  • Game Development Life Cycle
  • Danau Beratan Bedugul Bali
  • Bebek Bacem Seyegan Sleman Yogyakarta
  • Soto Esto Salatiga Sejak 1953
  • Nol Kilometer Banjarmasin
  • Bopet Mini Sejak 1980
  • Pondok Lesehan Kampoeng Sawah Temanggung
  • Rawon Nguling Malang Sejak 1942
  • Sate dan Tongseng Pak Kurdi Sejak 1978
  • Kembali ke Situ Cileunca Pangalengan Bandung

Recent Posts

  • Pemandian Air Panas Cibolang Pangalengan Bandung Sejak 1980
  • Kembali ke Situ Cileunca Pangalengan Bandung
  • Kota Lama: Wisata Sejarah Ikonik di Semarang
  • Mencegah Website Down saat Flash Sale dan Lonjakan Traffic
  • Hosting Terbaik 2026 untuk Website Pribadi, Portofolio, dan Startup

Categories

Archives

Subscribe

Enter your email address to subscribe to this blog.

Travel

  • Pemandian Air Panas Cibolang Pangalengan Bandung Sejak 1980March 11, 2026
  • Kembali ke Situ Cileunca Pangalengan BandungMarch 10, 2026
  • Kota Lama: Wisata Sejarah Ikonik di SemarangMarch 7, 2026
  • Loko Cafe Stasiun Tugu YogyakartaJanuary 31, 2026
  • Universal Studios Singapore: Panduan Wahana, Tips, dan Akses LengkapDecember 1, 2025

Culinary

  • Steak Holycow CAMP JogjaJanuary 1, 2026
  • Soto Sapi Mbah Marto Sawitan MagelangDecember 28, 2025
  • Bebek Bacem Seyegan Sleman YogyakartaDecember 21, 2025
  • Raja Kosek Resto Mungkid MagelangDecember 20, 2025
  • Kazu Ramen: Pilihan Kuliner Ramen di Barat YogyakartaDecember 14, 2025

Technology

  • Mencegah Website Down saat Flash Sale dan Lonjakan TrafficFebruary 18, 2026
  • Hosting Terbaik 2026 untuk Website Pribadi, Portofolio, dan StartupFebruary 8, 2026
  • Nevacloud vs Hostinger VPS Global: Pilihan Terbaik untuk Pengguna IndonesiaDecember 13, 2025
  • Apa Bedanya VPS dengan Hosting BiasaDecember 5, 2025
  • Perbedaan Domain .COM, .ID, dan .NETNovember 5, 2025
©2026 Arif Setiawan | WordPress Theme by SuperbThemes
 

Loading Comments...