Melanjutkan pembahasan tentang Kerja di Startup beberapa waktu yang lalu. Selain deskripsi pekerjaan yang lumayan susah dijelaskan, ada satu hal lagi yang bakal kalian hadapi, yaitu orang tua kalian belum tentu akan bangga dengan pekerjaan yang kalian geluti.

Apalagi kalau kalian tinggal di Indonesia dan sebentar lagi merayakan yang namanya lebaran, kumpul keluarga, serta silaturahmi dengan tetangga.

Seperti biasa, pertanyaan-pertanyaan soal kehidupan kita yang mana sebagian besar buat basa-basi akan banyak dilontarkan. Mulai dari bahasan sekolah, kuliah, jodoh, anak dan pastinya kerjaan.

Sudah umum dan wajar jika orang tua, terutama ibu-ibu akan bangga dan menceritakan prestasi anaknya sebagai bahan obrolan dengan saudara-saudara yang sedang berkumpul atau dengan tetangga.

Soal si anak saya yang sudah kerja di perusahaan terkenal A, perusahaan terkenal B, PNS di instansi A, PNS di instansi B, BUMN A, BUMN B, beserta tetek bengek lainnya.

Trus dimulailah acaranya yang namanya perbandingan.

Nah, trus orang tua kita gimana? Apa yang harus diceritakan? hahaha *lalu hening*

Nama perusahaan aja baru dibikin, kantor juga masih kecil, kerja ga seragaman malah lebih mirip mau main ke mall, deskripsi kerjaan juga ga cukup sepatah dua patah kata.

Kemarin si ada cerita yang lumayan lucu. Jadi ada tetangga yang sempat melihat kantor tempat kami kerja. Sambil gendong cucunya beliau berkata pada cucunya tersebut :

Yuk dek mau lihat-lihat kantor.

Dan terlihatlah dua buah meja dan beberapa kursi saja.

Wah, kantornya kecil ya? *sambil senyum*

Entah apa arti senyumnya itu. Yang ada di dalem cuma bisa bales dengan senyum saja, heheu.

Lucunya jarang banget ibu-ibu yang cerita-cerita soal anaknya bikin usaha A atau usaha B. Mungkin memang budaya di Indonesia masih seperti itu.

Ya berarti siap-siap aja nrimo, ndak usah terlalu dipikirkan dan pasang senyum simetris, haha.

Karena ada juga beberapa orang tua yang sudah mulai berpikir sejalan dengan anak-anaknya. Dan tidak terlalu mengindahkan hal-hal semacam itu.

Biarkan kita, Tuhan dan orang tua kita sendiri yang semoga bisa memberi apresiasi (tentunya setelah melewati fase penjelasan sebelumnya).

Begitulah.

Ada yang pernah mengalami pengalaman serupa?

๏ 141 readers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *