Merayakan Idul Adha di Bali

Sejak mulai merantau dan menjadi anak kosan, terutama sejak masa kuliah, merayakan Hari Raya Idul Adha jauh dari keluarga sudah menjadi hal yang biasa bagi saya. Alhasil tanggal merah hari raya ini hampir sama dengan libur nasional biasa, ditambah dengan sholat ied di pagi harinya. Mau mudik juga biasanya nanggung cuma libur sehari.

Tahun lalu, akhirnya ada sedikit perbedaan, yaitu merayakan Hari Raya Idul Adha di Bali, di lingkungan yang masyarakat muslim merupakan minoritas. Kebetulan bareng dengan teman-teman se-kantor.

Nah, bagaimana kondisi di sana ketika Idul Adha??

Karena kami menginap di kawasan Ubud, masjid terdekat yang menyelenggarakan sholat ied adalah Masjid Agung Kabupaten Gianyar (mungkin emang cuma 1 masjid ini se-kabupaten). Ubud merupakan kecamatan yang mana bagian dari Kabupaten Gianyar.

Dari Ubud ke Gianyar waktu tempuh sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor, sehingga kami harus berangkat setelah subuh agar tidak terlambat.

Sesampainya di sekitar masjid, kami bergegas untuk mencari parkiran, dan sudah disediakan di sepanjang jalan sekitar masjid. Sudah ada beberapa aparat keamanan yang berjaga-jaga pula. Yang membuat ngeh, owh.. begini toh suasana hari raya umat muslim di Pulau Dewata ini.

Masjid Agung Gianyar
Masjid Agung Gianyar
Suasana di dalam masjid
Suasana di dalam masjid

Ahamdulillah semua berjalan lancar, tidak ada gejala rusuh atau apa pun yang biasanya diliput di televisi.

Uniknya yang ikut melaksanakan sholat ied sepertinya tidak hanya warga negara Indonesia saja, tapi ada beberapa warga asing yang ikut juga, dan lokasi masjid yang berhadapan langsung dengan Pura dan tak jauh dari Kantor Bupati Gianyar. Bukti masyarakat kita masih bisa hidup berdampingan walaupun berbeda keyakinan.

Pura depan masjid
Pura depan masjid

Setelah selesai rangkaian sholat dan khutbah kami bergegas untuk kembali ke Ubud lagi untuk berburu nasi campur Bali yang indie banget tempatnya nyelip di pinggiran.

Saya, Mira, Enjel, Riwe, Riezan
Saya, Mira, Enjel, Riwe, Riezan

Satu yang masih membuat saya penasaran adalah bagaimana penyembelihan hewan kurbannya, seingat saya tidak begitu banyak hewan kurban terlihat di sekitar masjid.

Begitulah hari raya Idul Adha di Bali. Kami melewatinya tanpa ada euforia yang wah dan tidak menikmati daging seperti biasanya ketika di tanah Jawa.

Bagaimana hari raya Idul Adha-mu?

Selamat merayakan ya buat semuanya.

๏ 374 readers

Leave a Reply