Kami mendarat di Wattay International Airport Vientiane di siang hari waktu Laos.

Setelah terjadi drama setibanya di airport ini, yang tadinya berangkat berempat kini tinggal bertiga, hal-hal yang kami lakukan selanjutnya adalah mencari sim card untuk koneksi internet, mengambil uang dan mencari transportasi untuk bertolak ke tujuan pertama kami di kota ini.

Touchdown Vientiane

Kami memutuskan menggunakan taksi (yang ternyata terhitung cukup mahal) untuk bertolak dari bandara ke terminal bus untuk menuju ke tujuan selanjutnya, yaitu Kota Vang Vieng. Selama di taksi pun kami masih dalam keadaan sedikit shock sambil melihat kondisi kota yang ternyata sangat kental dengan aura komunis.

Sampai di terminal bus yang kami kira akan berbentuk seperti kebanyakan terminal bus di Indonesia, ternyata di sana bentuknya lebih mirip tempat ngetem angkot, hahaha. Masih setengah tidak percaya dan bertanya berkali-kali dan ternyata tidak banyak yang mahir Bahasa Inggris juga di sana. *lalu hening*

Bus Vientiane – Vang Vieng
Bareng mamang calo tiket

Setelah mendapatkan tiket bus ke Vang Vieng, selanjutnya kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di daerah sekitar berhubung masih ada beberapa jam sebelum keberangkatan bus.

Patuxay Monument

Satu-satunya tujuan kami di Vientiane adalah Patuxay Monument yang berjarak sekitar 2 km dari terminal bus tadi. Jadinya masih memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki, sekalian melihat kondisi sekitar.

Kesan pertama terhadap Kota Vientiane ini adalah kering, berdebu, panas, sepi dan suram penuh dengan aura militer. Even kami melihat beberapa pekerja yang mungkin PNS di sana seragamnya pun militer banget. Banyak sekali atribut bendera negara yang berdampingan dengan bendera palu arit di hampir setiap venue kota ini, baik rumah, toko, instansi, sekolah, hingga mallnya.

Menurut saya Vientiane ini masih kurang cocok disebut sebagai ibukota negara deh, lebih mirip kayak ibukota kabupaten. Karena sepi dan kecil, beneran, haha.

Lao National Culture Hall
Sudut Kota Vientiane
Mall dengan bendera negara & bendera komunis
Vientiane Capital Library
Lao Post
Lycee De Vientiane

Setelah melewati beberapa sudut kota akhirnya kami sampai juga di kawasan Patuxay Monument.

Patuxay Monument

Monumen ini merupakan monumen kemerdekaan bagi masyarakat Laos dari penjajahan Perancis, makanya konon monumen ini mirip dengan Arc De Triomphe yang ada di Paris.

Kami pun cuma sebentar di kawasan ini, satu dua kali foto-foto sama selfie trus pengen menepi ke tempat yang ada pohonnya, karena memang suasananya panas bukan main.

Tim Laos : Saya, Mira, Riwe

Dari kawasan ini untuk kembali ke terminal bus tadinya kami berencana untuk berjalan kaki lagi, tapi akhirnya kami menyerah dan menyewa tuktuk saja daripada dehidrasi, hahaha.

Di tuktuk sambil ngomongin kota yang berdebu dan penuh bendera komunis

Turun dari tuktuk, kami melihat outlet pizza di seberang jalan yang sepertinya ada AC-nya, tanpa pikir panjang kami langsung masuk dan memesan makanan beserta air dingin di sana, haha.

Pizza Company, mirip Pizza Hut lah

Setelah numpang istirahat sejenak, akhirnya kami pun harus berangkat ke Vang Vieng.

Tadinya si malah mau iseng mampir di salah satu coworking space di sana namanya Tohlao buat gegayaan anak gaul startup, tapi udah males juga karena drama sebelumnya.

Lets go!

Perjalanan dari Vientiane ke Vang Vieng akan ditempuh selama sekitar 3 jam. Dan ternyata busnya enak, ga terlalu ramai, cuma bawa penumpang kami bertiga dan satu rombongan mbak-mbak dari Korea. Dan ac busnya udah berasa surga banget.

Begitulah cerita transit di Vientiane, sampai jumpa di Vang Vieng!

 

Beberapa foto diambil dari blog Mira.

๏ 79 readers

One Reply to “Transit di Kota Vientiane”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *