Menuju Kota Vang Vieng

Karena statusnya sebagai sebuah ibukota negara, saya kira untuk keluar dari Kota Vientiane akan memakan waktu yang lama. Tapi ternyata tidak. Vientiane tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Jakarta yang sama-sama merupakan ibukota negara, macet pun tidak sama sekali, lebih mirip seperti Semarang, haha.

Tak lama setelah melewati meninggalkan Kota Vientiane kami langsung disuguhkan dengan pemandangan yang tak biasa.

Goodbye Vientiane!

Meskipun masih dekat dengan ibukota negara, tapi jalan-jalan protokol yang kami lewati jauh dari kata bagus. Jalan rusak dan pemandangan khas pedesaan kering yang mana rumah-rumah, pepohonan, kendaraan dan bangunan-bangunan lain yang diselimuti dengan debu tebal langsung menyapa kami. Untungnya kami berada di van yang ber-AC dan tertutup rapat, walaupun efek debu tetap bisa masuk sedikit. Gilak! hahaha.

Seriusan ini kondisi negaranya kayak gini banget?

Saya pun dalam hati langsung bergumam seperti itu. Kering sekali. Emang ga ada hujan di sini?

Mirip sekali dengan Jalan Daendels yang ada di pesisir selatan Jawa Tengah, banyak yang rusak, tidak terlalu luas ditambah dengan kuantitas debu berpuluh kali lipat, wkwk. Rumah-rumah di pinggir jalannya pun masih banyak yang menggunakan kayu dan anyaman bambu dengan model yang hampir sama yaitu panggung mirip dengan Rumah Limas. Mungkin itu bentuk bangunan umum untuk masyarakat Laos.

Dan sekali lagi saya masih bisa bertanya-tanya.

Seriusan ini kondisi jalan provinsinya seperti ini?

***

Tak lama saya bisa juga ketiduran. Dan bangun-bangun ternyata kami sudah sampai di tujuan akhir bus yang kami tumpangi, yaitu Kota Vang Vieng. Perjalanan dari Vientiane ke Vang Vieng ini ditempuh selama kurang lebih 3 jam.

Masih dengan kondisi setengah sadar kami harus turun.

Kesan pertama dengan melihat sekitar tempat ini adalah …

Lho, ini terminalnya?? hahahaha

Terminal Vang Vieng

Lebih mirip tempat ngetem angkot di deket kecamatan di daerahku, wkwk.

Kami pun masih bertanya apakah benar ini tempat wisata yang kami tuju? Karena di sini berdebu, sepi dan tidak ada tanda-tanda aktivitas dari turis, hostel atau restoran. Di sekitar cuma ada anak-anak bersepeda, lapangan luas dan beberapa balon udara yang siap untuk terbang.

Welcome to Vang Vieng!
Balon udara yang khas di Vang Vieng
Yay, sampai di Vang Vieng, wkwk

Setelah melihat peta untuk mencari hostel yang sudah kami booking, ternyata kami harus menyeberang satu blok dari terminal ini. Kami memilih berjalan kaki sambil melihat lingkungan sekitar dan setelah sampai di Chillao Youth Hostel, barulah kami yakin ini tempat yang kami tuju. Mulai terlihat ada aktivitas dari bule-bule yang abis wisata tubing dan mabok-mabok, nyanyi-nyanyi karena di hostel ini free minuman alkohol, lel.

Jalan Utama Kota Vang Vieng

Kami langsung melakukan reservasi untuk wisata alam yang menjadi andalan daya tarik Vang Vieng di esok hari dan checkin di kamar guna membersihkan diri dan istirahat sejenak.

***

Malam harinya kami mencari tempat nongkrong santai di sekitar kawasan hostel dan ternyata di sini khas banget tempatnya. Desain kotak-kotak kayu lengkap dengan meja untuk menikmati Lao Coffee dan bantal untuk bersandar.

Warung Khas Vang Vieng
Tempat buat chillin
Lao Coffee

Tanpa pikir panjang tentu kami manfaatkan buat mencicipi kopi khas ini. Rasanya lebih pekat dan temen saya Mira tidak terlalu suka katanya, haha.

***

Begitulah cerita hari pertama kami tiba di Kota Vang Vieng, sampai jumpa di cerita selanjutnya! 😀

๏ 45 readers

2 thoughts on “Menuju Kota Vang Vieng”

  1. Wahhh,,, keren tuh pas naik balon udaranya.
    Bisa jadi panduan buat itin tuh… haaa
    Btw bro, itu pas loe naik balon udara di vang vieng, berapaan?

    Makasih.

Leave a Reply