Skip to content
Arif Setiawan
Arif Setiawan

travel, culinary and technology

  • Home
  • About
  • Travel
    • Indonesia
      • Bali
      • Banten
      • Jakarta
      • Jawa Barat
      • Jawa Tengah
      • Jawa Timur
      • Kalimantan Selatan
      • Lampung
      • Sumatera Barat
      • Sumatera Utara
      • Yogyakarta
    • Laos
    • Malaysia
    • Singapore
    • Vietnam
  • Culinary
  • Technology
    • Startup
    • Software Development
    • Social Media
  • #kulinersince
  • Nol Kilometer
Arif Setiawan

travel, culinary and technology

Monumen Kapal Selam Surabaya

Arif Setiawan, May 24, 2018

Pertama kali saya mengunjungi Kota Surabaya adalah ketika ikut acara darmawisata bareng dengan teman-teman di SMP Negeri 2 Purworejo. Waktu itu tujuannya adalah beberapa kota di Jawa Timur, termasuk menyeberang ke Madura. Dan ketika singgah di Kota Surabaya, yang paling saya ingat adalah jalan-jalan di area Monumen Kapal Selam Surabaya ini.

Di akhir tahun 2017 kemarin akhirnya saya sempat ke Surabaya lagi dan meskipun cuma lewat berjalan kaki di Jalan Pemuda, jalan di pinggir area Monumen Kapal Selam ini, tetapi cukup untuk mengingatkan ketika dulu darmawisata.

Lokasi monumen ini memang sangat strategis karena di tengah-tengah Kota Surabaya dekat dengan Sungai Kalimas, sungai utama yang ada di Surabaya, Plaza Surabaya dan Stasiun Surabaya Gubeng. Monumen ini juga sekaligus dijadikan simbol Kota Pahlawan, selain ikan Sura dan Buaya.

Kawasan antara Stasiun Surabaya Gubeng dan Monumen Kapal Selam

Kapal selam yang ada di monumen ini adalah salah satu kapal selam TNI Angkatan Laut tipe Whiskey Class buatan Uni Soviet tahun 1952, namanya KRI Pasopati dengan nomor lambung 410. Didatangkan langsung dari Vladivostok, Uni Soviet dengan panjang 76,6 meter dan lebar 6,3 meter. Kapal selam jenis ini adalah salah satu yang terbaik pada masanya.

KRI Pasopati 410

KRI Pasopati masuk jajaran TNI AL pada tahun 1962 dan turut terlibat dalam operasi Antareja Jaya Wijaya untuk pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda kala itu. Jadi cukup mempunyai nilai sejarah yang tinggi.

Monumen yang digagas oleh sesepuh TNI AL ini dibuat untuk mengenang kejayaan maritim Indonesia, dan ada di Surabaya karena merupakan kota pangkalan Angkatan Laut. Pemindahan kapal selam ini pun punya cerita sendiri. KRI Pasopati harus dipotong menjadi 16 bagian dan dibawa ke area Monkasel untuk dirakit kembali menjadi sebuah monumen. Monumen ini pun menjadi salah satu monumen kapal selam yang cuma ada di 5 negara di dunia.

Sejak adanya monumen ini, Surabaya jadi punya salah satu destinasi wisata edukasi yang selau ramai dikunjungi oleh acara darmawisata sekolah-sekolah. Salah satunya seperti saya waktu SMP dulu. Dan pemandu yang ada di monumen ini adalah siswa-siswi SMK yang ada di Surabaya. Bentuk edukasinya jadi semakin menarik karena dari siswa dan untuk siswa. Keren ya? heheu.

Jam Buka

Senin – Jumat jam 08.30 – 22.00

Harga Tiket

Rp 5.000

→ 200 readers

Related

Indonesia Travel Jawa TimurKRI PasopatiMonkaselMonumen Kapal SelamSurabaya

Post navigation

Previous post
Next post

Comments (2)

  1. Travelling Surabaya says:
    September 12, 2018 at 10:13 am

    Monumen ini berada di tengah kota Surabaya, di Jalan Pemuda, tepat di sebelah Plasa Surabaya. Monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam Jenis/Type Whiskey yang kemudian diberi nama KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalam Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda.

    Museum ini merupakan salah satu destinasi wajib jika travelling ke Kota Surabaya. Buka setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB.

    Reply
  2. Nusatrans Travel says:
    March 9, 2023 at 8:10 am

    Artikel yang sangat menarik, kunjungi trevel, tujuan Surabaya Bondowoso 175 via tol unutk menemani perjalanan terbaik Anda.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular Posts

  • Phuket Resto Borobudur: Menikmati Cita Rasa Thailand di Magelang
  • Bakso Urat Lor Patung Kuda Manahan Solo Sejak 1983
  • Tanah Lot: Keindahan Alam dan Spiritualitas yang Menyatu di Bali
  • Soto Ayam Mbah Mul Sejak 1969
  • Nol Kilometer Banjarmasin
  • Danau Beratan Bedugul Bali
  • Warma Pian Tegal Sejak 1926
  • Pecel Solo Resto di Kota Surakarta Sejak 2002
  • Pempek Ny. Kamto Sejak 1984
  • Game Development Life Cycle

Recent Posts

  • Steak Holycow CAMP Jogja
  • Soto Sapi Mbah Marto Sawitan Magelang
  • Cara Pilih Popok Bayi yang Tepat untuk Kulit Sensitif, Ini Panduannya!
  • Bebek Bacem Seyegan Sleman Yogyakarta
  • Raja Kosek Resto Mungkid Magelang

Categories

Archives

Subscribe

Enter your email address to subscribe to this blog.

Travel

  • Universal Studios Singapore: Panduan Wahana, Tips, dan Akses LengkapDecember 1, 2025
  • Pantai Batu Bolong Canggu BaliNovember 26, 2025
  • Tanah Lot: Keindahan Alam dan Spiritualitas yang Menyatu di BaliNovember 24, 2025
  • Staycation di The 101 Bali Oasis SanurNovember 23, 2025
  • Menghadiri Pernikahan Adat Bali di TabananNovember 22, 2025

Culinary

  • Steak Holycow CAMP JogjaJanuary 1, 2026
  • Soto Sapi Mbah Marto Sawitan MagelangDecember 28, 2025
  • Bebek Bacem Seyegan Sleman YogyakartaDecember 21, 2025
  • Raja Kosek Resto Mungkid MagelangDecember 20, 2025
  • Kazu Ramen: Pilihan Kuliner Ramen di Barat YogyakartaDecember 14, 2025

Technology

  • Nevacloud vs Hostinger VPS Global: Pilihan Terbaik untuk Pengguna IndonesiaDecember 13, 2025
  • Apa Bedanya VPS dengan Hosting BiasaDecember 5, 2025
  • Perbedaan Domain .COM, .ID, dan .NETNovember 5, 2025
  • Mengenal Jenis-Jenis Server: Mana yang Cocok untuk Website Anda?April 23, 2025
  • Cloud VPS vs Managed VPS: Mana yang Lebih Cocok untuk Bisnis Anda?April 8, 2025
©2026 Arif Setiawan | WordPress Theme by SuperbThemes
 

Loading Comments...