Bandung Setelah Peringatan KAA

Bandung memang bisa dibilang bukanlah yang terbaik dalam hal tata kota, bahkan menurut saya cenderung kurang teratur. Mungkin karena sedikit banyak pengaruh Kolonial Belanda kala itu yang menjadikan Bandung menjadi kota peristirahatan, hingga muncul istilah Paris van Java. Kota yang juga identik dengan bangunan-bangunan etnik Eropa.

“Nederlanders, mengapa pulang ke Eropa? Tetaplah tinggal di Hindia! Kalian yang sudah pulang, kembalilah dan bermukimlah di Bandung!” (Walikota Bandung W. Kuhr dalam Majalah Mooibandoeng).

Kutipan di atas diambil dari salah satu tulisan oleh Komunitas Aleut yang sempat “menyentil” tentang Kota Bandung. Read more “Bandung Setelah Peringatan KAA”

๏ 528 readers

Fun Bike Sekar Telkom

Tahun 2015 ini saya akhirnya punya tunggangan sepeda di Bandung, setelah beli di salah satu penjual sepeda di Jalan Malabar.

Setelah punya sepeda jadi lumayan sering sepedaan muter-muter Bandung. Paling mantep masih rute Bojongsoang – Dago – Tahura Djuanda – Warung Bandrek.

Nah, akhir bulan Maret lalu akhirnya saya bareng temen-temen berkesempatan buat ikut salah satu event sepeda, kala itu eventnya bertajuk Fun Bike Sekar Telkom 2015, dalam rangka memperingati HUT Serikat Karyawan Telkom yang ke-14. Tarifnya Rp 50.000 saja, sudah dapet kaos + snack. Read more “Fun Bike Sekar Telkom”

๏ 486 readers

Bersepeda Ke Warung Bandrek

Akhir minggu lalu saya beserta +Nashiruddin+Yudhi, dan +Fajar akhirnya menyempatkan diri buat gowes menelusuri Kota Bandung, dari Bandung Selatan ke Bandung Utara, tepatnya hingga Warung Bandrek Cycling Rest Area. Disusul sama +Jessie Setiady yang gowes dari Baleendah hingga Tahura Juanda.

Kami mulai sekitar pukul 7 pagi, lewat jalur biasa dari Buah Batu hingga Dago. Berhenti di checkpoint bergambar sepeda di dekat Simpang Dago diteruskan istirahat di McD.

Checkpoint Dago

Lanjut menuju Dago Pakar dengan jalur sensasi tanjakan. Kami berhenti lagi tepat di depan Pitsops Bike (toko aksesoris sepeda), dan Fajar sudah mulai menuntun sepedanya, wkwk. Dari sini kami harus melewati 4 tanjakan lagi untuk sampai ke Warung Bandrek.

Jalan Menanjak

 

Istirahat dulu bro :))

 

Mampir di Tahura Juanda

Dari Tahura, kami lanjut bertiga, karena Fajar sudah angkat bendera putih, heheu.

Jalur Tahura – Warung Bandrek cukup menguras tenaga, karena selain menanjak jalannya pun sudah jalan kombinasi aspal dan bebatuan dengan jarak kurang lebih 3 km.
Kami harus berhenti sebentar di warung kecil sambil jajan gorengan (efek belum sarapan) sebelum tanjakan terakhir karena hujan.
Setelah hujan sedikit reda, kami lanjut dan akhirnya sampai checkpoint Warung Bandrek. Sudah banyak pesepeda yang ada di sana ternyata, dari yang muda dan bapak-bapak ada semua. Memang sudah markasnya pesepeda sepertinya.
Kami istirahat sebentar sambil menikmati bajigur + kacang rebus, nikmat bro.
Kota Bandung dari Warung Bandrek
Setelah itu kami langsung bertolak turun, karena Jessie sudah menunggu sekitar setengah jam di Tahura.
Bertemu Lady Biker di Tahura
Kami melanjutkan perjalanan pulang berempat ke arah Dayeuhkolot dengan angan sudah menunggu menu Padjaw di kosan :)).
Warung Bandrek – Putra Bangsa

Mungkin itu dulu liputannya, besok-besok boleh coba lagi buat gowes, Bandung masih mendukung suasana kotanya ;).Gimana? Mau join? Bisa langsung hubungi kami, haha. Waktu gowes biasanya di sabtu pagi.

@ariffsetiawan

๏ 215 readers