Baca salah satu artikel di feed reader saya hari ini tentang adanya platform guru.or.id yang merupakan wadah bagi para guru untuk menuangkan pendapatnya. Seketika saya ingat salah satu twit yang saya favorite yang menuju ke artikel Why Teacher Must Write.
Seorang tenaga pengajar, baik itu guru, dosen, pengajar les, kursus, asisten dan lain sebagainya haruslah menuliskan sesuatu, minimal mengenai lingkup apa yang dia ajarkan kepada seseorang ataupun pengalaman hidupnya.
Ini setuju banget saya sama pernyataan bahwa seorang tenaga pengajar tu harus nulis, harus, musti, kudu! Apalagi sekarang udah banyak banget fasilitas buat nulis/ngeblog yang gratis nan bagus dan user friendly.
Karena apa?
Ya yang namanya mengajarkan sesuatu kepada seseorang menurut saya ga bakal bisa disampaikan cuma sekali tanpa diulang kembali. Dan yang namanya mengajar pasti melewati penyampaian materi/pertemuan yang mungkin bisa dihitung pake jari jumlahnya.
Bagaimana jika yang diajarkan punya pertanyaan?
Kemungkinan besar seorang yang menjadi objek pengajaran pasti punya rasa malu untuk bertanya langsung, yo ra?
Lha trus apa bedanya jika yang ngajarin nulis?
Lha yang diajarin ga perlu malu buat bertanya, tinggal nyari di tulisan yang ngajarin dia, ketemu jawabannya (kalo ada), simbiosis mutualisme to?
Apalagi manfaat lainnya? Banyak.
Menulis itu kontemplasi. Bisa merangsang, memacu dan menuangkan pemikiran kita dalam bentuk tulisan. Memang melakukan kegiatan menulis agak berat jika belum terbiasa, perlu energi lebih, apalagi jika lagi miskin ide dan gagasan. Tapi menulis bisa dijadikan sebagai kegiatan untuk belajar menganalisa, belajar berpikir dan belajar berkomunikasi secara efektif.
Jika ada yang bilang bahwa seorang yang harusnya jago menulis itu adalah tenaga pengajar, saya secara mutlak meng iya kan.
Karena apa?
Karena tenaga pengajar inilah yang dijadikan sosok, contoh, panutan dan apa yang ia kerjakan akan digugu lan ditiru oleh muridnya. Kalo guru sama muridnya, kalo dosen ya sama mahasiswanya.Sebenarnya sempet juga terbesit di pikiran saya, itu dosen-dosen saya niatnya jadi dosen apa ya? Apa cuma sebatas penyampai materi trus #singuwisyowis, apa sebatas dapet kerjaan trus dapet gaji buat hidup, apa emang dari lubuk hati yang paling dalam pengen memberikan esensi hidup buat generasi penerus bangsa kelak?

Menjadi seorang tenaga pengajar tidaklah mudah, kau pikir dengan menyampaikan materi di kelas dan ngasih nilai semuanya akan berakhir? Nggak.

Menurut saya, seorang tenaga pengajar haruslah tidak menjadi budak kurikulum, tetapi justru mengajarkan esensi dari sebuah materi pengajaran dan bagaimana menjadi seorang yang bisa hidup di dunia luar sana. Harus bisa menularkan hal baik kepada muridnya, memberikan solusi bukan instanisasi jawaban dari sebuah masalah. Murid harus tahu, potensi sekarang begini, potensi ke depan begini, menunjukkan bagaimana caranya dia memahami sesuatu. Jadi jangan cuma ngomong tok, harus dituangkan dalam tulisan. Kenapa harus? Karena ngomong kan gampang, begitu nulis kan susah.
Selain itu, sebuah tulisan usianya bakal lama, omongan? mungkin usia terpendeknya bakal lewat dari kuping kanan hingga kiri.
Nah, bagaimana cara memulainya? Seorang tenaga pengajar pun seharusnya sudah tahu. Harus banyak membaca dan bisa menuliskan mulai dari hal-hal kecil keseharian yang diingat. Lama-lama pasti tulisan akan semakin bagus, beralur, menarik dan mudah dipahami.Bagaimana menurutmu?

#JuliNgeblog #Day4

@ariffsetiawan

๏ 54 readers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *