Seru-Seruan di Dunia Fantasi

Tempat yang paling asyik dikunjungi setelah momen ujian adalah Dunia Fantasi. Yup, di sini kami akan mengeluarkan ekspresi terpendam kami karena momen ujian kali ini cukup panjang dan melelahkan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir dengan deadline skripsi yang hanya tinggal beberapa minggu, ujian menjadi pemecah konsentrasi kami dalam menyelesaikan skripsi ini. Saat ini kami membutuhkan ruang untuk menyalurkan kesuntukan atas deadline yang tidak ada habis. Syarat masih di seputar Jakarta karena kami harus bersiap dengan segala jadwal bimbingan dalam waktu dua hari lagi.  Dan Dufanlah tempatnya. Dengan tujuh orang teman yang seide dan seirama, kami segera mengatur jadwal keberangkatan dan transportasi yang praktis agar waktu sehari ini bisa dioptimalkan di Dufan.

Sabtu pukul 06.00 kami berkumpul di Senayan sebagai meeting point karena lokasi rumah kami yang tersebar di seputar Jabodetabek. Di pasar Senen kami berhenti sejenak untuk membeli aneka kue untuk cemilan kami di jalan. Dengan kondisi jalan yang masih lengang, kami bisa mencapai kawasan Ancol pukul 07.30 dengan perut yang kenyang dengan sarapan aneka kue di dalam mobil.

Kawasan Ancol merupakan kawasan wisata yang lengkap untuk keluarga. Di sini kita bisa berekreasi pantai, eco park, edukasi hewan laut di Seaworld, atau berenang yang menjadi kegemaran anak-anak dengan aneka permainan di dalamnya seperti seluncuran bertingkat, kolam arus ataupun kolam ombak. Bahkan hotel berbintangpun telah berdiri megah di kawasan Ancol ini yang telah dibangun tidak lama kawasan Ancol berkembang, seperti terlihat di situs Traveloka. Dan yang menjadi favorit bagi anak muda seperti kami adalah arena Dunia Fantasi. Dunia Fantasi bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak remaja setelah masa ujian. Dunia Fantasi dibangun pada tahun 1996 dan telah menjelma menjadi salah satu tempat wisata yang hingga saat ini telah menampung 20 juta lebih pengunjung hingga di tahun 2014 dengan total 22 wahana yang dioperasikan.

Setelah membayar tiket pintu gerbang Ancol  sebesar Rp.25.000,00 per orang dan Rp.20.000,00 untuk mobil, kendaraan kami langsung menuju gerbang Dufan yang tidak jauh dari gerbang utama Ancol. Kami beruntung mendapatkan tempat parkir yang tidak jauh dari gerbang Dufan. Di pintu gerbang Dufan kulihat telah ada antrian dan aku serta Dion segera mengambil antrian agar tidak semakin panjang. Satu orang hanya dibolehkan mengantri untuk 5 tiket. Harga tiket untuk hari libur cukup mahal yaitu Rp.270.000,00 per orang dan Rp.130.000,00 untuk hari kerja. Mudah-mudahan saja semua wahana dijalankan agar tidak rugi rasanya membayar tiket semahal ini.

Setelah setengah jam mengantri, aku dan Dion telah membeli tiket 8 buah dan menunggu gerbang dibuka pukul 10.00. Kami masih punya waktu setengah jam  untuk sarapan babak kedua dan yang tidak ketinggalan foto-foto narsis di sekitar area pintu gerbang Dufan. Pintu gerbang dipadati pengunjung yang menurutku siswa SMP yang mengantri sambil ngobrol dan berselfi ria dengan tongsisnya. Wow, dengan harga tiket yang mencekik, anak-anak itu sudah bisa main ke Dufan.

Seperti yang telah didiskusikan di mobil, kami segera menuju area simulator sesaat pintu gerbang Dufan dibuka. Dan ternyata, ide tersebut juga diikuti oleh anak-anak SMP tersebut dan jadilah kami tetap harus mengantri di area  Happy Feet. Wahana pemanasan yang menyenangkan. Merasakan menjadi pinguin lucu yang senang menari di atas es.

Wahana berikutnya adalah perang bintang. Di wahana ini Dion dan Syamillah jagonya. Mereka memang gamer sejati sehingga selalu memenangkan aneka game baik di komputer atau game yang sesungguhnya. Bagiku dan teman-teman perempuan wahana ini membuat kami merasa lebih rileks karena ini bukanlah perang dan persaingan sungguhan seperti halnya ujian ataupun skripsi. Upps… aku harus menghilangkan kata skripsi selama di sini agar benar-benar merasa rileks.

image00

Ketika matahari telah berada tepat di atas kepala, kami memilih wahana yang berada di ruangan tertutup seperti Rumah Jahil yang membuat kami harus berpikir mencari jalan keluar, Rumah Miring yang sangat unik karena berlawanan dengan proses gravitasi dan Kalila Adventure yang menyajikan pertunjukan 4D dari petualangan Paddle Pop. Treasureland Temple Fire of Dufan menjadi wahana yang menarik karena wahana ini masih baru yang menceritakan petualangan seorang arkeolog dalam pencarian artefak kuno.

Wahana yang memacu adrenalin seperti halilintar, Rajawali, Tornado dan Kicir-kicir adalah wahana yang tidak ingin kunaiki. Aku memilih menunggu di bawah sambil menyantap kue-kue. Sedangkan teman-temanku sangat bersemangat dalam menaiki wahana-wahana ini dan berfoto aneka pose. Ah, biarlah… aku tahu kemampuanku dan tidak akan memaksakan diri.

Kemudian kami bersama lagi menaiki wahana Alap-alap, Baku Toki, Niagara-gara dan dilanjutkan dengan Arung Jeram karena kami sudah siap untuk bermain basah-basahan. Walaupun agak kekanak-kanakan, teman lelakiku pun akhirnya bersedia naik wahana Istana Boneka. Heheee…. Kora-Kora, Ontang Anting dan Poci-poci tidak akan kami lewatkan karena wahana ini harus dinaiki oleh kami semua sebagai perjanjian sebelum berangkat ke Dufan. Pada saat malam sebelum kami pulang, wahana Bianglala menjadi penutup kegilaan kami hari ini. Entah sudah berapa foto dan pose yang kami lakukan selama kurang lebih 9 jam kami di tempat rekreasi ini. Yang jelas, besok aku dan teman-temanku dapat menghadapi skripsi dan dosen pembimbing dengan senyuman lebar ini. Dufan, its always the best place for stress getaway…

๏ 95 readers

Leave a Reply